Notification

×

Iklan

Iklan

Lulus 3,5 Tahun, Mahasiswi ITS Bukukan 839 SKEM Tertinggi di Wisuda ke-133

Jumat, 17 April 2026 | April 17, 2026 WIB Last Updated 2026-04-17T12:32:22Z
Kilas Java, Surabaya - Langkah mantap ditunjukkan Pelangi Masita Wati saat menapaki panggung Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sabtu, 18 April 2026. Bukan sekadar lulus cepat dalam 3,5 tahun, mahasiswi Teknik Informatika ini juga mencatatkan capaian yang sulit ditandingi: nilai Satuan Kredit Ekstrakurikuler Mahasiswa (SKEM) tertinggi, mencapai 839 poin.

SKEM merupakan instrumen kampus untuk mengukur aktivitas mahasiswa di luar akademik formal. Mulai dari organisasi, kepanitiaan, kompetisi, olahraga, hingga program internasional dan magang, seluruhnya terintegrasi dalam sistem tersebut. 

Batas minimal kelulusan ditetapkan 100 poin. Angka yang dilampaui Pelangi bukan sekadar tinggi, melainkan menunjukkan intensitas keterlibatan yang konsisten sepanjang masa studi.

Menariknya, capaian tersebut tidak dirancang sebagai ambisi sejak awal. Ia mengaku hanya menjalani berbagai kegiatan secara natural, lalu mendokumentasikannya dalam sistem SKEM. Pola ini justru membuatnya berkembang tanpa tekanan target angka.

Perubahan signifikan terjadi dalam perjalanan akademiknya. Saat masih di SMA Negeri 6 Surabaya, Pelangi cenderung fokus pada pelajaran di kelas. Memasuki dunia kampus, ia menemukan ruang yang mendorong eksplorasi lebih luas. SKEM menjadi pemicu untuk keluar dari zona nyaman dan membangun portofolio yang beragam.

Sejumlah pengalaman strategis pun berhasil ia raih. Pelangi sempat menjalani kerja praktik di Apple Developer Academy, sebuah ekosistem pengembangan talenta digital yang berorientasi global. 

Ia juga mengikuti INSPIRASI Summer Program di Nanyang Technological University, memperluas perspektif akademik dan jejaring internasional. Di tingkat internal kampus, ia aktif dalam organisasi serta kompetisi yang relevan dengan bidang informatika.

Ia menegaskan, selektivitas menjadi kunci. Tidak semua kegiatan diikuti, melainkan disaring berdasarkan kesesuaian dengan minat dan arah karier. Pendekatan ini membuat setiap aktivitas memiliki nilai tambah yang konkret.

Dari rangkaian pengalaman tersebut, Pelangi mengaku mendapatkan lebih dari sekadar kemampuan teknis. 

Ia mengasah daya adaptasi, komunikasi, hingga ketahanan dalam menghadapi dinamika. Bekal ini dinilainya krusial di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Prestasi nonakademik itu berjalan beriringan dengan capaian akademik. Pelangi menutup masa studinya dengan IPK 3,76 dan predikat magna cumlaude. 

Ia menjaga ritme dengan manajemen waktu yang disiplin serta memastikan kondisi kesehatan tetap stabil. Dukungan lingkungan kampus, mulai dari rekan hingga dosen, turut menjadi faktor penguat dalam proses tersebut.

Selepas wisuda, Pelangi tidak berhenti. Ia kembali berkontribusi di Apple Developer Academy sebagai bagian dari AIML Institute. Aktivitas ini menjadi ruang lanjutan untuk mengembangkan kompetensi sekaligus mengaplikasikan pengalaman yang telah dibangun selama masa kuliah. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update