Notification

×

Iklan

Iklan

Jelang May Day, FSPMI Jawa Timur Turun ke Jalan, Suarakan Tuntutan Kesejahteraan

Kamis, 16 April 2026 | April 16, 2026 WIB Last Updated 2026-04-16T16:43:59Z
Kilas Java, Surabaya – Peringatan 1 Mei atau May Day kembali menjadi momentum penting bagi kalangan pekerja. Bagi buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), hari tersebut bukan sekadar hari libur, melainkan simbol panjang perjuangan kelas pekerja di seluruh dunia.

Menjelang peringatan itu, FSPMI Jawa Timur menggelar aksi Pra May Day pada Rabu (16/4/2026). Aksi ini dipusatkan di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Alun-alun Contong, Surabaya, sebagai bentuk tekanan sekaligus penguatan agenda perjuangan buruh.

Di Surabaya, semangat massa aksi tetap terjaga meski cuaca panas menyengat. Ribuan buruh yang tergabung dalam FSPMI Kota Surabaya tampak solid mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal.

Massa mulai berkumpul sejak pukul 11.00 WIB di Frontage Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan Masjid Baitul Haq Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Titik ini menjadi lokasi konsolidasi awal sebelum bergerak bersama menuju pusat aksi.

Seiring waktu, peserta dari berbagai daerah mulai berdatangan. Buruh dari Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Jember, Lumajang hingga Banyuwangi turut ambil bagian. Kehadiran lintas daerah ini memperlihatkan luasnya jaringan dan soliditas organisasi buruh di Jawa Timur.

Menariknya, suasana di lokasi tidak hanya diwarnai orasi dan persiapan aksi. Para buruh juga memanfaatkan momen tersebut sebagai ajang silaturahmi. Anggota dari berbagai Pimpinan Unit Kerja (PUK) saling berinteraksi, berbincang santai, hingga mempererat hubungan antarsesama pekerja.

Nuansa kebersamaan itu terasa kuat. Solidaritas yang terbangun tidak hanya bersifat formal dalam barisan aksi, tetapi juga tumbuh dari relasi personal antaranggota.

Dalam barisan Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) Surabaya, aksi dipimpin Ketua Pimpinan Cabang SPAI Surabaya, Slamet Rahardjo. Ia hadir bersama perwakilan PUK dari berbagai perusahaan yang menjadi basis organisasi.

Di hadapan massa, Slamet menekankan pentingnya konsolidasi di tingkat basis. Menurutnya, kekuatan utama gerakan buruh terletak pada kesadaran dan keterlibatan anggota di level paling bawah.

Ia menegaskan bahwa pemahaman mengenai makna perjuangan harus terus ditanamkan. Tanpa kesadaran kolektif, tuntutan buruh berpotensi tidak mendapatkan perhatian serius dari para pengambil kebijakan.

Aksi di ruang publik, lanjutnya, menjadi salah satu strategi penting untuk memastikan suara buruh terdengar. Tekanan massa dinilai masih relevan sebagai instrumen untuk mendorong perubahan kebijakan.

Slamet juga mengingatkan bahwa setiap perjuangan tidak lepas dari pengorbanan. Kekompakan dan solidaritas menjadi faktor penentu dalam menjaga keberlanjutan gerakan.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Pra May Day merupakan bagian dari langkah strategis FSPMI. Selain mengawal tuntutan yang belum terealisasi, momentum ini juga digunakan untuk menyuarakan agenda perjuangan ke depan.

Dengan konsolidasi yang terus diperkuat, buruh diharapkan memiliki posisi tawar yang lebih jelas setelah peringatan May Day berlangsung.

Di sisi lain, tantangan internal masih menjadi pekerjaan rumah. Salah satu yang disorot adalah rendahnya kesadaran sebagian anggota dalam memaknai perjuangan. Masih terdapat buruh yang cenderung pasif dan menggantungkan harapan pada pihak lain.

Kondisi tersebut dinilai perlu diatasi melalui pendidikan organisasi dan penguatan ideologi gerakan di tingkat basis.

Melalui aksi ini, FSPMI berharap pemerintah dapat merespons berbagai tuntutan yang disampaikan. Buruh menginginkan adanya langkah konkret dari pemangku kebijakan dalam menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan yang masih mengemuka.

Aksi Pra May Day di Surabaya pun menjadi lebih dari sekadar mobilisasi massa. Di dalamnya, tersimpan upaya merawat solidaritas sekaligus menjaga nyala perjuangan buruh di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update