Notification

×

Iklan

Iklan

Mahasiswa ITS dan Mancanegara Turun ke Kampung, Gebang Putih Jadi Pusat Inovasi Sosial

Kamis, 16 April 2026 | April 16, 2026 WIB Last Updated 2026-04-15T17:39:35Z
KILAS JAVA, SURABAYA - Kampung tak lagi sekadar ruang tinggal. Di tangan mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kelurahan Gebang Putih, Kecamatan Sukolilo, disulap menjadi ruang belajar lintas negara yang hidup dan penuh interaksi. Program Global Summer Course Initiatives Social Innovation Project yang digelar Rabu (15/4/2026) menghadirkan suasana dinamis, cair, dan sarat pertukaran gagasan.

Mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia berbaur dengan peserta internasional asal Malaysia, Singapura, Vietnam, hingga Inggris. Mereka tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga menyelami persoalan sosial masyarakat secara langsung.

Profesor Maria Anityasari menegaskan, program ini lahir dari kesadaran bahwa kampus tidak boleh berdiri terpisah dari realitas sosial di sekitarnya.

“Kami melihat ITS berada di tengah masyarakat yang padat. Sudah seharusnya keberadaan kampus memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejak tahun lalu pihaknya telah merancang peta jalan pengabdian masyarakat dengan fokus awal di Gebang Putih. 

Dua tahap survei dilakukan untuk memetakan persoalan riil warga, terutama di sektor UMKM.

Hasilnya, sejumlah kebutuhan mendasar teridentifikasi. Mulai dari digitalisasi transaksi hingga pembenahan tata kelola usaha melalui konsep 5R. Program tersebut kemudian menjadi pijakan untuk pengembangan tahap berikutnya yang lebih kompleks.

Tahun ini, pendekatan diperluas dengan melibatkan mahasiswa mancanegara dalam skema social innovation project. Para peserta ditantang merumuskan solusi konkret atas persoalan sosial yang ditemukan di lapangan.

Dari proses tersebut, muncul sejumlah gagasan strategis. Di antaranya pembentukan bank sampah serta pemanfaatan lahan kosong sebagai ruang produktif bagi UMKM dan aktivitas warga.

“Dari hasil pengamatan, kami melihat masih ada persoalan kebersihan. Maka muncul ide bank sampah. Selain itu, ada lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat,” kata Maria.

Tak hanya itu, program juga menyasar pemberdayaan pemuda. Para generasi muda Gebang diajak masuk ke lingkungan kampus ITS untuk mengenal laboratorium, praktik pembelajaran, hingga meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan diri sekaligus membuka akses bagi pemuda kampung terhadap dunia akademik.

Program yang berlangsung sepanjang April ini tidak berhenti pada tahap diskusi. Seluruh gagasan akan diimplementasikan melalui Kuliah Kerja Nyata selama enam bulan ke depan. 

Mahasiswa akan menyusun desain teknis, perhitungan anggaran, hingga skema operasional program.

Untuk bank sampah, sistem pengelolaan akan dirancang berbasis digital agar mudah diterapkan warga. 

Sementara penguatan branding UMKM akan terus dipantau dalam tahap lanjutan hingga akhir tahun.

Keterlibatan mahasiswa asing justru memberi perspektif baru. Nor Emmy Shuhada, peserta asal Malaysia, mengaku terkesan dengan kedekatan yang terbangun selama kegiatan berlangsung.

“Saya salut melihat keakraban di sini, semua seperti keluarga, tidak ada sekat di antara mereka,” tuturnya.

Sementara peserta dari Singapura mengikuti program dengan pendekatan lebih akademis. Mereka dibekali modul khusus untuk memahami kondisi sosial masyarakat Indonesia secara mendalam, terutama di lingkungan kampung.

Lurah Gebang Putih, Indriyani Setiawati, menyebut kegiatan ini sebagai momentum penting bagi wilayahnya. Untuk pertama kalinya, mahasiswa mancanegara terlibat langsung dalam aktivitas sosial di kelurahan tersebut.

“Ini pengalaman luar biasa bagi kami. Mereka bisa melihat langsung kehidupan masyarakat di sini dan berinteraksi tanpa jarak,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi semacam ini terus berlanjut dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. 

Bagi warga Gebang, kehadiran mahasiswa dari berbagai negara bukan sekadar kunjungan akademik, melainkan jembatan menuju perubahan sosial yang lebih luas. (Nayla).


TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update