KILAS JAVA, SURABAYA - Aksi tawuran remaja dan kelompok organisasi maupun pemuda dan komunitas di Surabaya kian meresahkan. Bentrokan antar gang dan komunitas yang melibatkan anak muda tak hanya mengganggu ketertiban, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius di tengah masyarakat.
Di tengah situasi ini, Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PERTINA) Kota Surabaya menawarkan pendekatan berbeda: mengalihkan konflik jalanan menjadi adu prestasi di atas ring tinju.
Ketua PERTINA Kota Surabaya, Ferlix Prasetya, secara terbuka menyatakan keprihatinannya terhadap fenomena tersebut.
Ia menilai, maraknya tawuran tersebut bukan semata persoalan kenakalan, melainkan kegagalan menyediakan ruang penyaluran energi dan potensi bagi remaja.
“Kita tidak bisa hanya melihat ini sebagai pelanggaran hukum. Ada energi besar dari anak-anak muda yang tidak tersalurkan dengan benar,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Ferlix mendatangi Polrestabes Surabaya untuk melakukan audiensi dengan Kapolrestabes Surabaya, Komisaris Besar Polisi, Dr. Luthfie Sulistiawan.
Pertemuan tersebut membahas kemungkinan sinergi antara organisasi olahraga dan aparat kepolisian dalam menekan angka tawuran melalui pendekatan pembinaan.
Dalam audiensi itu, PERTINA kembali menegaskan gagasan yang sebelumnya juga disampaikan kepada DPRD Kota Surabaya: menghadirkan ruang kompetisi resmi bagi remaja, khususnya melalui olahraga tinju.
Wadah ini diharapkan mampu menjadi kanal penyaluran bakat sekaligus meredam potensi konflik horizontal di kalangan anak muda.
Menurut Ferlix, karakter olahraga tinju yang menuntut disiplin tinggi, kontrol emosi, serta sportivitas menjadi nilai penting dalam membentuk mental remaja.
Ia menyebut, rivalitas yang selama ini muncul di jalanan dapat dialihkan menjadi kompetisi yang terukur dan memiliki aturan jelas.
PERTINA juga mendorong agar program pembinaan ini tidak berjalan parsial. Keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah kota, aparat keamanan, hingga komunitas lokal, dinilai menjadi kunci agar program mampu menjangkau remaja secara luas, termasuk mereka yang selama ini berada di lingkaran tawuran.
Selain sebagai langkah preventif, program ini juga membuka peluang bagi lahirnya atlet-atlet muda berprestasi dari Surabaya.
Remaja yang sebelumnya terlibat konflik di jalanan diharapkan dapat bertransformasi menjadi petinju yang bertanding secara profesional di atas ring, membawa nama daerah dalam ajang yang lebih tinggi. (Nay).

