Kilas Java, Surabaya – Regenerasi menjadi pesan kuat dalam pelantikan Pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Surabaya periode 2026–2030 di Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Nginden, Sabtu (23/5/2026).
Kehadiran banyak wajah muda dalam kepengurusan baru dinilai menjadi energi segar bagi organisasi sosial kemasyarakatan etnis Tionghoa tersebut.
Pelantikan yang dirangkai dengan pembekalan organisasi itu berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran pengurus PSMTI Jawa Timur, tokoh masyarakat, hingga anggota dari berbagai daerah di Surabaya.
Sekretaris PSMTI Jawa Timur, Angie Laurensia Sayogo, mengatakan kepengurusan baru harus mampu membawa organisasi lebih adaptif sekaligus tetap menjaga semangat pengabdian sosial.
Menurutnya, pengurus tidak cukup hanya aktif secara administratif, tetapi juga harus memiliki ketulusan dalam bekerja untuk masyarakat dan organisasi.
“PSMTI Surabaya selama ini menjadi salah satu barometer organisasi di Jawa Timur. Kami berharap semangat regenerasi terus hidup dan anak-anak muda semakin berani mengambil peran,” ujarnya.
Prosesi pelantikan diawali dengan penandatanganan surat kesediaan oleh Ketua PSMTI Surabaya periode 2026–2030, Muljo Hardijana. Setelah itu dilanjutkan pembacaan Surat Keputusan kepengurusan baru oleh PSMTI Jawa Timur.
Seluruh jajaran pengurus kemudian mengikuti pembacaan ikrar organisasi sebelum penyerahan bendera PSMTI sebagai simbol amanah kepemimpinan.
Dalam sambutannya, Muljo Hardijana menegaskan organisasi harus menjadi ruang belajar sekaligus ruang pengabdian sosial. Karena itu, pembekalan diberikan agar seluruh pengurus memahami arah perjuangan organisasi dan mampu membangun komunikasi yang sehat di tengah masyarakat.
Ia menyebut organisasi memiliki peran penting sebagai wadah interaksi, penyerap aspirasi, hingga sarana memperkuat solidaritas sosial.
“Melalui organisasi, kita belajar membangun kebersamaan dan memahami bagaimana hidup bermasyarakat dengan baik,” katanya.
Materi pembekalan pertama disampaikan Kunkun Tanimijaya yang juga menjabat Ketua PSMTI Kota Madiun.
Dalam paparannya, ia mengulas sejarah lahirnya PSMTI setelah tragedi Mei 1998 serta pentingnya pemahaman anggaran dasar organisasi bagi seluruh anggota.
Menurut Kunkun, PSMTI lahir sebagai ruang pemersatu sekaligus penguatan identitas kebangsaan masyarakat Tionghoa Indonesia.
Ia juga menyoroti perkembangan kaderisasi di Surabaya yang dinilai berjalan progresif dibanding sejumlah daerah lain di Jawa Timur.
“Kaderisasi di Surabaya berkembang cukup baik dan ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” jelasnya.
Sesi berikutnya menghadirkan Inayah Sri Wardhani dengan materi mengenai posisi etnis Tionghoa dalam masyarakat plural Indonesia.
Ia menekankan bahwa pluralisme tidak cukup dipahami sebatas keberagaman, tetapi juga membutuhkan ruang dialog dan kebijakan yang adil bagi seluruh kelompok masyarakat.
Menurutnya, organisasi seperti PSMTI memiliki peran strategis dalam menghimpun aspirasi komunitas agar lebih mudah tersampaikan kepada pemerintah maupun publik.
“Dalam masyarakat yang besar dan kompleks, organisasi menjadi jembatan untuk memperkuat komunikasi sosial,” paparnya.
Sementara itu, sesi penutup pembekalan diisi Thomas More yang membahas penguatan organisasi dan manajemen sumber daya manusia.
Ia mengingatkan bahwa konflik internal merupakan bagian dari dinamika organisasi yang tidak bisa dihindari. Karena itu, dibutuhkan kedewasaan dan komunikasi yang sehat agar organisasi tetap berjalan produktif. (Nayla).

