KILAS JAVA, SURABAYA – Ribuan pasang mata memenuhi Grand Fullerton Ballroom Surabaya, Minggu (14/6/2026). Suasana haru dan bangga menyelimuti prosesi Gebyar Prestasi Al-Qur'an Yayasan Pendidikan Khadijah Surabaya Tahun Ajaran 2025-2026.
Sebanyak 866 siswa dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA resmi diwisuda setelah menuntaskan capaian pembelajaran Al-Qur'an sesuai standar yang ditetapkan yayasan.
Jumlah tersebut menjadi yang terbesar sepanjang penyelenggaraan wisuda Al-Qur'an Khadijah Surabaya.
Para peserta terdiri atas 363 santri kategori tartil dan 503 santri kategori tahfidz yang berasal dari berbagai unit pendidikan, sosial, serta pondok pesantren di bawah naungan Yayasan Khadijah.
Ketua I Yayasan Khadijah Surabaya KH Abdullah Sani menjelaskan, para santri yang diwisuda bukan hanya mampu membaca Al-Qur'an, tetapi telah melewati serangkaian proses evaluasi yang ketat.
Mereka harus mengikuti jenjang pendidikan Al-Qur'an secara berkelanjutan hingga dinyatakan lulus seleksi tingkat yayasan.
Menurutnya, capaian santri tartil kerap dipandang sederhana oleh sebagian masyarakat. Padahal, untuk mencapai kelulusan tartil, siswa harus melalui tahapan munaqasyah dan berbagai proses penilaian yang menuntut ketepatan bacaan sesuai kaidah Al-Qur'an.
"Dari jumlah ini, sepertinya tartil kalau orang memandang bahwa itu sepele. Tetapi di kami, untuk lulus tartil punya tahapan yang cukup kuat. Mulai dari munaqasyah hingga lulus ke yayasan," ujarnya.
Ia mengungkapkan, sebagian lulusan bahkan telah mengantongi syahadah sebagai pengajar Al-Qur'an.
Tidak hanya itu, lima santri juga telah memiliki sanad keilmuan Al-Qur'an, sebuah capaian yang menurutnya tidak mudah diraih.
Pada kategori tahfidz, Yayasan Khadijah memberikan apresiasi kepada siswa kelas akhir di setiap jenjang pendidikan berdasarkan capaian hafalan yang dimiliki.
Mulai dari hafalan satu juz hingga puluhan juz tetap mendapatkan penghargaan sesuai kemampuan masing-masing.
Sani menegaskan bahwa yayasan tidak hanya berorientasi pada jumlah hafalan, melainkan juga konsistensi proses belajar dan ketekunan siswa dalam menjaga hafalan. Karena itu, wisuda diberikan kepada peserta didik yang telah menyelesaikan masa studinya pada jenjang tertentu.
"Kita semua mengapresiasi, tapi yang kita pakai kelas terakhir. Jadi berapapun hafalannya tetap kita apresiasi dan ikutkan dalam Gebyar Prestasi Al-Qur'an ini," katanya.
Ia berharap para wisudawan tidak berhenti setelah menerima penghargaan. Menurutnya, tantangan terbesar seorang penghafal Al-Qur'an justru terletak pada kemampuan menjaga hafalan agar tetap melekat sepanjang hayat.
"Ngaji Al-Qur'an harus setiap hari dan tentu yang sudah hafal harus dipertahankan agar hafalannya tidak hilang," pesannya.
Gebyar Prestasi Al-Qur'an tahun ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting. Hadir Ketua Umum Yayasan Khadijah Prof. Dr. H. Ridlwan Nasir MA, Direktur Bil Qolam Pusat KH Anas Bashori Alwi, KH Mas Sulaiman, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Dalam kesempatan tersebut, Eri Cahyadi yang hadir sebagai wali murid menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Khadijah karena dinilai berhasil membangun fondasi karakter generasi muda melalui pendidikan Al-Qur'an.
Menurut Eri, pembelajaran Al-Qur'an sejak usia dini menjadi benteng moral yang mampu melindungi anak-anak dari berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
"Saya mewakili wali murid seluruh wisudawan dan wisudawati mengucapkan terima kasih. Dengan hal seperti ini, anak-anak kita dikuatkan dan dipagari oleh Al-Qur'an," ujarnya.
Ia meyakini pendidikan berbasis nilai-nilai Al-Qur'an akan melahirkan generasi yang memiliki akhlak mulia dan kepedulian sosial yang tinggi.
Kehadiran generasi seperti itu, lanjutnya, menjadi modal penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang tertib dan harmonis.
"Insyaallah, dengan anak-anak seperti ini tidak ada geng motor, tawuran maupun narkoba," ucapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina Yayasan Khadijah menilai pembinaan Al-Qur'an yang dilakukan sekolah tidak hanya berfokus pada proses belajar, tetapi juga pada upaya menjaga keberlanjutan hafalan para santri.
Menurut Khofifah, peran guru Al-Qur'an sangat strategis karena tidak sekadar mengajar, tetapi juga membimbing dan memastikan kualitas hafalan peserta didik tetap terjaga.
Ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi proses tersebut di lingkungan keluarga.
"Para guru Al-Qur'an tidak hanya belajar tetapi juga mengajarkan. Penting bagi wali santri untuk memastikan hafalan tetap terjaga," katanya.
Khofifah menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur selama ini memberikan perhatian khusus kepada para hafidz dan hafidzah melalui program tunjangan yang diberikan secara berkelanjutan.
Setiap tahun sekitar 4.200 penghafal Al-Qur'an menerima manfaat program tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap kontribusi mereka dalam menjaga tradisi keilmuan Islam.
Untuk pembelajaran membaca Al-Qur'an, seluruh unit pendidikan Khadijah berafiliasi dengan metode Bil Qolam yang dikembangkan KH Anas Bashori Alwi.
Metode tersebut menjadi salah satu fondasi dalam memastikan kualitas bacaan para siswa sesuai standar tartil yang berlaku, sekaligus mendukung lahirnya generasi penghafal Al-Qur'an dari berbagai jenjang pendidikan di lingkungan Yayasan Khadijah Surabaya. (Nayla).

