Notification

×

Iklan

Iklan

Media Perjoeangan Jatim Gelar Rakerwil di Bromo, Bahas Teknik Foto dan AI dalam Jurnalistik

Sabtu, 23 Mei 2026 | Mei 23, 2026 WIB Last Updated 2026-05-23T15:55:50Z
KILAS JAVA, PROBOLINGGO – Puluhan jurnalis yang tergabung dalam Media Perjoeangan Jawa Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di kawasan Bromo, Sabtu (23/5/2026). 

Kegiatan yang berlangsung di salah satu homestay tersebut menjadi ruang konsolidasi sekaligus penguatan kapasitas jurnalistik bagi para peserta.

Rakerwil kali ini tidak hanya membahas arah organisasi dan penguatan jaringan media, tetapi juga menegaskan kembali visi Media Perjoeangan dalam membersamai kelompok-kelompok masyarakat tertindas, khususnya kaum buruh.

Dalam forum tersebut, Kabiro Media Perjoeangan Jatim Khairul Anam memberikan materi lanjutan tentang jurnalistik. 

Jika pada raker sebelumnya peserta mendapat penguatan dasar-dasar jurnalistik, tahun ini pembahasan lebih difokuskan pada teknik pengambilan gambar sebagai unsur penting dalam sebuah karya jurnalistik.

Menurut Anam, foto memiliki posisi strategis dalam membangun pemahaman pembaca terhadap suatu peristiwa. Gambar bukan sekadar pelengkap tulisan, melainkan elemen yang memperkuat sudut pandang dan narasi yang disampaikan kepada publik.

“Gambar merupakan pendukung daripada "how" , sehingga narasi yang disampaikan mengena kepada pembaca. Bahkan orang awam bisa memahami maksud berita hanya dengan melihat gambar,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kemampuan visual seorang wartawan menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas karya jurnalistik. 

Karena itu, pengambilan gambar tidak boleh dilakukan secara asal, melainkan harus disesuaikan dengan angle dan pesan yang ingin dibangun dalam sebuah berita.

“Jangan asal ambil gambar. Pengambilan gambar harus disesuaikan dengan angle dari karya jurnalistik,” tegasnya.

Selain membahas teknik visual, Anam juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini mulai banyak digunakan dalam dunia jurnalistik. 

Menurut dia, AI memang dapat membantu proses kerja wartawan, namun tidak boleh menjadi sandaran utama dalam menyusun karya jurnalistik.

Ia mengingatkan bahwa seorang jurnalis tetap dituntut memiliki kepekaan, kemampuan mengolah data, serta penguasaan bahasa yang baik agar karya yang dihasilkan tetap memiliki kedalaman dan karakter.

“Bahasa AI itu monoton. Jadi kewajiban seorang wartawan bagaimana memanage karya jurnalistik menjadi karya yang berbobot,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diajak mendiskusikan pentingnya sensitivitas sosial dalam kerja-kerja jurnalistik. 

Hal itu sejalan dengan semangat Media Perjoeangan yang selama ini menempatkan isu perburuhan dan kelompok marjinal sebagai perhatian utama pemberitaan.

Rakerwil tahun ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi dengan penguatan pengetahuan jurnalistik, sedangkan sesi kedua menghadirkan nonton bareng film dokumenter berjudul “Pesta Babi”.

Pemutaran film dokumenter itu kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi, tanya jawab, serta penyampaian pesan dan kesan peserta terhadap isi film yang ditayangkan. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update