Kilas Java, Surabaya – Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tidak hanya menjadi seremoni kelulusan, tetapi juga etalase capaian mahasiswa. Di antara ratusan lulusan, dua sosok tampil menonjol berkat kombinasi prestasi akademik dan kontribusi nyata selama masa studi.
Mereka adalah Christopher Jason Santoso dari jenjang sarjana (S1) dan Muhammad Fadhli dari sarjana terapan (D4). Keduanya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada periode kali ini.
Christopher Jason Santoso mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 dari Departemen Studi Pembangunan ITS. Angka tersebut menempatkannya sebagai salah satu lulusan dengan capaian akademik tertinggi pada wisuda kali ini.
Menariknya, capaian tersebut bukan hasil dari target ambisius sejak awal. Christo, sapaan akrabnya, justru menempuh pendekatan yang lebih sederhana: menjaga konsistensi belajar di setiap semester. Ia masuk ITS melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dengan orientasi bertahan dan berkembang secara bertahap.
Selama menjalani studi, Christo aktif memperluas pengalaman di luar ruang kuliah. Ia terlibat dalam program ITS Global Engagement (GE) yang membuka akses kolaborasi internasional. Dari sana, ia berhasil meraih gelar Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia.
Di sisi lain, Christo juga menekuni dunia seni sebagai dalang muda. Aktivitas tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus bentuk kontribusi dalam pelestarian budaya. Ia memandang pengembangan diri harus berjalan seimbang antara intelektual dan sosial.
Ketertarikannya pada isu inklusi sosial dituangkan dalam skripsi yang mengangkat fenomena diskriminasi interseksionalistik terhadap penutur dengan rhotasisme di Surabaya.
Melalui pendekatan kualitatif, ia menggali pengalaman langsung narasumber untuk memberikan gambaran yang lebih utuh terhadap persoalan tersebut.
Sementara itu, Muhammad Fadhli dari Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi menorehkan IPK 3,78. Perjalanan akademiknya diwarnai tantangan, terutama saat harus beradaptasi dengan bidang kelistrikan yang bukan latar belakangnya di sekolah menengah.
Alih-alih terpaku pada teori, Fadhli memilih pendekatan praktik. Ia aktif terlibat dalam proyek-proyek dosen untuk memperkuat pemahaman teknis. Metode tersebut membuahkan hasil signifikan, termasuk capaian IPS 4,0 pada semester berikutnya.
Kemampuan aplikatif itu diwujudkan dalam tugas akhir berupa alat Heat Exchanger Simulator. Inovasi tersebut tidak hanya menjadi proyek akademik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai fasilitas pembelajaran di Laboratorium Safety System Departemen Teknik Instrumentasi ITS.
Di tengah aktivitas sebagai asisten laboratorium dan pengurus BEM Fakultas Vokasi, Fadhli tetap menjaga konsistensi akademik. Manajemen waktu menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan antara organisasi dan studi.
Saat ini, ia telah memulai karier profesional di PT Sucofindo yang terlibat sebagai vendor PT Freeport Indonesia di Gresik. Lingkungan industri menjadi ruang lanjutan bagi pengembangan kompetensi yang telah dibangun selama kuliah.
Baik Christo maupun Fadhli menunjukkan bahwa capaian akademik tinggi tidak berdiri sendiri. Keduanya mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman, serta menjadikan masa studi sebagai ruang eksplorasi yang produktif. (Nayla).

