Notification

×

Iklan

Iklan

Student Ambassador for Peace, Model Baru Pendidikan Karakter di Sekolah

Sabtu, 14 Februari 2026 | Februari 14, 2026 WIB Last Updated 2026-02-14T09:17:07Z
KILAS JAVA, SIDOARJO - Di tengah sorotan publik terhadap maraknya perundungan dan kekerasan di sekolah, sebuah inisiatif pendidikan perdamaian kembali digelar di Sidoarjo. 

Peace Goes To School The Series untuk kedua kalinya hadir di SMP Widya Wiyata, Sabtu, (14/2/2026). Program ini diinisiasi Peace Leader Indonesia dengan dukungan Asian Muslim Action Network Indonesia, dan berlangsung serentak di 10 kota.

Kegiatan ini tidak berdiri dalam ruang hampa. Data dan berbagai laporan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sekolah di Indonesia masih dihadapkan pada kasus perundungan, intoleransi, kekerasan seksual, hingga kekerasan berbasis gender. 

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar: apakah sekolah benar-benar telah menjadi ruang aman bagi peserta didik?

Pemerintah sejak 2023 menetapkan tiga persoalan itu sebagai Tiga Dosa Besar Pendidikan. 

Melalui Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan, negara menegaskan bahwa penghapusan kekerasan adalah bagian dari agenda reformasi pendidikan. 

Namun, regulasi membutuhkan gerakan konkret di tingkat akar rumput.

Peace Goes To School mencoba mengisi ruang itu. Program ini mengusung tema Memberdayakan Pemuda Pembangun Perdamaian, Membentuk Masa Depan Inklusif. 

Pendekatannya berbasis partisipasi siswa dan guru, dengan metode dialog, kerja kelompok, serta refleksi kritis.

Ketua Bidang Program Peace Leader Indonesia, Nur Kholifah, mengatakan program ini dirancang untuk memperkuat pemahaman tentang nilai perdamaian, toleransi, kesetaraan gender, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. 

Menurut dia, pendidikan karakter tidak cukup melalui ceramah normatif, melainkan perlu ruang aman untuk berdiskusi dan berlatih empati.

Kepala SMP Widya Wiyata Sidoarjo, Inayah Sri Wardhani, menyatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam pencegahan perundungan. 

Ia menilai pendidikan karakter memang tidak selalu tercermin dalam angka rapor, tetapi menentukan kualitas manusia yang dihasilkan sekolah.

Program ditutup dengan pemilihan Student Ambassador for Peace. Empat siswa terpilih mewakili kategori Peace, Tolerance, Equality, dan Inclusivity. 

Penilaian dilakukan berdasarkan kemampuan bekerja dalam tim, keterampilan berbicara di depan umum, serta kreativitas selama proses pelatihan.

Komite Sekolah, Ken Maritiningrum, mengaku tersentuh melihat interaksi para siswa, terutama saat mereka melibatkan teman berkebutuhan khusus dalam proyek kelompok. 

Baginya, momen itu menjadi indikator bahwa nilai inklusivitas bukan sekadar slogan.

Peace Goes To School memperlihatkan bahwa perubahan kultur sekolah tidak hanya bergantung pada kebijakan pusat, tetapi juga pada inisiatif komunitas pendidikan. 

Di tengah tantangan intoleransi dan kekerasan, ruang-ruang dialog seperti ini menjadi penting untuk menjaga sekolah tetap relevan sebagai tempat tumbuhnya generasi yang kritis sekaligus empatik.

Dari Sidoarjo, pesan yang hendak ditegaskan sederhana namun mendasar: membangun masa depan inklusif harus dimulai dari ruang kelas. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update