Notification

×

Iklan

Iklan

Mujahadah Kubro NU: Spirit Kebangsaan di Tengah Konsolidasi Nasional

Senin, 09 Februari 2026 | Februari 09, 2026 WIB Last Updated 2026-02-09T04:18:50Z
Kilas Java, Malang - Di tengah konsolidasi politik nasional pasca-kontestasi demokrasi, ribuan warga Nahdlatul Ulama berkumpul di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu, (8 Februari 2026). Mereka tidak sekadar berdoa. Mujahadah Kubro Satu Abad NU menjadi panggung spiritual sekaligus pesan politik kebangsaan: Indonesia hanya bisa maju jika persatuan tetap menjadi fondasi utama.

Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Mujahadah Kubro ini mempertegas makna strategis acara tersebut. Di hadapan para kiai, ulama, dan warga Nahdliyin, Presiden menempatkan NU bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan pilar penting stabilitas nasional dan perekat kebangsaan.

Acara yang menjadi bagian dari peringatan satu abad berdirinya NU itu mengusung tema Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi, dan Kontribusi dalam Mengemban Peradaban. Tema tersebut seolah menjawab tantangan bangsa yang kerap diuji oleh polarisasi politik, fragmentasi sosial, dan ketegangan identitas.

Selain Presiden, Mujahadah Kubro dihadiri jajaran Menteri Kabinet Merah Putih, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pimpinan lembaga tinggi negara seperti Ketua MPR RI, Panglima TNI, dan Kapolri. Hadir pula pimpinan Pengurus Besar NU, antara lain Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH. Anwar Mansyur, Ketua PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz, serta Sekretaris Jenderal PBNU Syaifullah Yusuf yang juga menjabat Menteri Sosial RI.

Sejak pagi, jamaah memadati kawasan stadion untuk mengikuti dzikir, tahlil, shalawat, dan doa bersama. Rangkaian kegiatan diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qari terbaik MTQ Nasional 2023, dilanjutkan laporan Ketua PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi atas undangan dan kehormatan dapat hadir di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Ia mengaku merasakan ketenangan dan optimisme berada di lingkungan NU yang selama satu abad konsisten merawat persatuan bangsa.

Presiden menegaskan, sejarah NU adalah sejarah kontribusi kebangsaan. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan, NU dinilainya selalu berada di garis depan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, stabilitas nasional dan kemakmuran rakyat hanya dapat terwujud dalam suasana damai dan persatuan yang kokoh.

Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan nasional yang rukun dan solid. Bangsa yang kuat, kata Presiden, menuntut para pemimpinnya mampu menahan ego sektoral dan mengedepankan kepentingan rakyat di atas segalanya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar menilai Mujahadah Kubro Satu Abad NU memiliki makna strategis di tengah dinamika kebangsaan saat ini. Ia menyebut mujahadah bukan hanya ekspresi spiritual, melainkan juga ikhtiar kebudayaan dan kebangsaan.

Menurutnya, NU telah memberi kontribusi besar dalam membangun moderasi beragama dan merawat harmoni sosial. Tradisi keagamaan yang hidup di NU terbukti mampu meredam ekstremisme dan menjaga ruang publik tetap inklusif.

Kementerian Agama, kata Akhmad Sruji Bahtiar, akan terus mendukung tradisi keagamaan yang menanamkan nilai Islam rahmatan lil alamin, cinta tanah air, dan komitmen kebangsaan. 

Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dalam menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat fondasi demokrasi Indonesia.

Seluruh rangkaian Mujahadah Kubro berlangsung tertib dan aman berkat sinergi panitia, relawan, serta aparat keamanan. 

Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kesejahteraan rakyat, dan arah pembangunan nasional yang berkeadaban. (Red).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update