Notification

×

Iklan

Iklan

Dokter Muda Asal Morotai Resmi Disumpah di Unusa, Bidik Spesialis Bedah Saraf

Rabu, 11 Februari 2026 | Februari 11, 2026 WIB Last Updated 2026-02-11T10:44:31Z
Kilas Java, Surabaya - Di antara 47 dokter baru yang diambil sumpahnya di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu siang, 11 Februari 2026, nama dr. Nuzlan Nuari menandai sebuah perjalanan panjang dari timur Indonesia menuju ruang-ruang praktik medis.

Lahir di Morotai, Maluku Utara, 4 Desember 2001, Nuzlan tumbuh sebagai anak kedua dan satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara. 

Hari pengambilan sumpah itu bukan sekadar seremoni akademik, melainkan simbol capaian keluarga yang sebelumnya tak memiliki latar belakang tenaga kesehatan.

“Kami bukan dari keluarga medis. Jadi semuanya dimulai dari nol,” ujarnya selepas prosesi.

Kakak pertamanya, Millatul Fahiroh Thohir, lebih dahulu menyelesaikan pendidikan dokter di Hubei Polytechnic University, China, dan kini menjalani program penyetaraan di salah satu rumah sakit di Makassar. 

Kini, dua bersaudara telah menyandang gelar dokter. Nuzlan berharap dua adiknya kelak mengikuti jejak yang sama.

Menurut dia, keinginan itu bukan semata ambisi pribadi, melainkan bagian dari harapan orang tua. “Sepertinya adik-adik juga ingin meneruskan. Orang tua tentu berharap kami bisa sama-sama berkontribusi,” katanya.

Namun jalan menuju gelar dokter bukan perkara ringan. Nuzlan mengakui fase awal pendidikan kedokteran terasa berat. 

Ia harus beradaptasi dengan materi yang sangat detail, terutama anatomi, serta ritme akademik yang menuntut ketahanan fisik dan mental.

“Awalnya saya tidak membayangkan harus mempelajari struktur tubuh manusia sedetail itu. Tantangan semakin terasa saat masuk tahap klinik dan pendidikan profesi,” ujarnya.

Momen pembelajaran paling berkesan datang ketika ia mengikuti Program Elektif Internasional Health Medicine di RS Sultan Abdul Azis Syah, Universitas Putra Malaysia. 

Di sana, ia magang di stroke center dan mempelajari sistem pelayanan kesehatan yang berbeda dengan di Indonesia.

Pengalaman tersebut, kata dia, membuka perspektif baru tentang manajemen kasus neurologi akut dan koordinasi tim medis. Ia juga merasakan bahwa kompetensi mahasiswa Unusa mampu bersaing di level internasional.

“Kami tidak kalah dari sisi pengetahuan maupun keterampilan. Itu diakui langsung oleh dokter pendamping di sana,” katanya.

Kepercayaan diri itu ingin ia tularkan kepada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unusa lainnya. Meski tergolong fakultas yang relatif muda, menurut dia, FK Unusa menunjukkan perkembangan signifikan. 

Sejumlah alumni telah diterima di program pendidikan dokter spesialis, dan dosen-dosennya dinilai memiliki kompetensi kuat di bidang masing-masing.

Ke depan, Nuzlan tidak menutup kemungkinan melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis bedah saraf. 

Ia juga mempertimbangkan jalur akademik melalui program doktoral. Ketertarikannya pada neurologi muncul dari pengalaman klinis serta kompleksitas kasus yang menuntut ketelitian tinggi.

“Saya tertarik mengembangkan diri di jalur klinis sekaligus akademis. Mudah-mudahan keduanya bisa berjalan beriringan,” ujarnya.

Di atas semua rencana itu, ada satu komitmen yang tak berubah: kembali ke Morotai. Ia menilai daerah asalnya masih membutuhkan tenaga medis, terutama dokter dengan kompetensi lanjutan.

“Daerah seperti Morotai membutuhkan dokter yang bukan hanya hadir, tapi juga punya kompetensi spesifik,” katanya.

Alumni SMA Negeri 1 Kraksaan, Probolinggo, itu membayangkan suatu hari dapat mengabdi bersama keluarganya di tanah kelahiran. 

Baginya, menjadi dokter bukan sekadar profesi, melainkan jalan pulang untuk memperkuat layanan kesehatan di wilayah yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau fasilitas medis memadai.

Di tengah euforia kelulusan, Nuzlan memilih menatap ke depan. Sumpah dokter yang diucapkannya siang itu menjadi titik awal tanggung jawab baru: mengembalikan ilmu ke masyarakat yang membesarkannya. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update