Notification

×

Iklan

Iklan

Dokter Pertama dari Mobagu, Praditya Afrilia Siap Kembali Mengabdi ke Daerah

Rabu, 11 Februari 2026 | Februari 11, 2026 WIB Last Updated 2026-02-11T10:49:56Z
Kilas Java, Surabaya – Rabu siang, 11 Februari 2026, menjadi momen yang tak akan dilupakan Praditya Afrilia. Perempuan asal Mobagu, Sulawesi Utara, itu resmi dilantik dan diambil sumpahnya sebagai dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa).

Pia, sapaan akrabnya, bukan sekadar menyandang gelar baru. Ia mencatat sejarah sebagai dokter pertama di keluarganya. 

Sebuah capaian yang lahir dari proses panjang, disiplin akademik, serta dukungan penuh dari orang tua.

Kedua orang tua Pia berprofesi sebagai guru di Mobagu. Lingkungan keluarga yang kental dengan tradisi pendidikan membentuk karakter dan cara pandangnya sejak kecil. Namun, pilihan Pia menempuh jalur kedokteran tidak pernah dibatasi.

“Ini sangat berarti bagi saya, karena saya dokter pertama di keluarga. Orang tua sangat mendukung sejak awal,” ujarnya usai prosesi sumpah dokter.

Tumbuh di keluarga pendidik membuat Pia akrab dengan nilai pengabdian. Ia terbiasa menyaksikan bagaimana orang tuanya mendedikasikan hidup untuk mencerdaskan generasi di daerah. 

Nilai itu pula yang kemudian ia bawa ketika memutuskan mengenakan jas putih.

Baginya, menjadi dokter bukan semata profesi prestisius. Ada tanggung jawab sosial yang menyertai. 

Sejak awal kuliah, bayangan tentang kampung halaman selalu menjadi pengingat untuk bertahan di tengah padatnya jadwal akademik dan tekanan pendidikan klinik.

Ia kerap mendengar cerita warga yang harus menunda pengobatan karena jarak fasilitas kesehatan terlalu jauh. 

Tidak sedikit pasien yang harus dirujuk ke daerah lain untuk penanganan lanjutan, dengan konsekuensi biaya tambahan dan risiko kondisi yang memburuk.

“Sejak awal studi di kedokteran, saya ingin membantu kondisi kesehatan di Mobagu. Tenaga kesehatannya masih kurang. Di wilayah pelosok, kebutuhan dokter sangat besar,” kata perempuan kelahiran Mobagu, 3 April 2001 itu.

Di tengah tren dokter muda yang memilih berkarier di kota besar, Pia justru memantapkan niat untuk kembali ke daerah. Ia meyakini, kehadiran dokter di wilayah seperti Mobagu bukan hanya soal layanan medis, tetapi juga tentang rasa aman bagi masyarakat.

Menurut dia, akses kesehatan yang merata berperan langsung pada kualitas hidup warga. Dokter tidak hanya menangani pasien, tetapi juga berperan dalam edukasi, pencegahan penyakit, hingga membangun kesadaran hidup sehat.

Prosesi sumpah dokter yang dijalaninya menjadi titik awal pengabdian baru. Ia menyadari, tantangan di lapangan tidak akan ringan. Keterbatasan fasilitas, distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, serta kondisi geografis menjadi realitas yang harus dihadapi.

Namun, Pia memilih melihatnya sebagai panggilan.

Ia ingin ilmu yang diperoleh di bangku FK Unusa tidak berhenti di ruang praktik kota besar, melainkan kembali ke daerah yang membesarkannya. 

Baginya, menjadi dokter adalah tentang menghadirkan harapan—bahwa masyarakat di wilayah terpencil pun berhak atas layanan kesehatan yang layak dan bermutu.

Rabu itu, Pia resmi menyandang gelar dokter. Di balik toga dan sumpah yang diucapkan, tersimpan tekad yang sederhana namun tegas: pulang, mengabdi, dan memastikan tak ada lagi warga yang merasa terlalu jauh dari pertolongan medis. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update