Notification

×

Iklan

Iklan

SMP YPPI-1 Surabaya Tampilkan Batik Gedi Ramah Lingkungan di Hadapan Akademisi Internasional

Kamis, 12 Februari 2026 | Februari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-02-12T05:58:09Z
Kilas Java, Surabaya - Sebanyak 46 mahasiswa dan dosen asing dari 29 universitas di 10 negara mengikuti kunjungan edukatif ke SMP YPPI-1 Surabaya dalam rangkaian CommTECH Camp Insight 2026, Kamis, (12/2/2026). 

Kegiatan ini menyoroti praktik pengelolaan limbah berbasis kearifan lokal yang terintegrasi dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Donokerto XI tersebut memperkenalkan Batik Gedi sebagai model pembelajaran lintas bidang—seni, sains lingkungan, hingga kewirausahaan. 

Kepala SMP YPPI-1, Dra. Titris Hariyanti Utami, menyatakan bahwa pendekatan tersebut dirancang untuk memberi pengalaman konkret kepada peserta didik maupun tamu internasional.

“Kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat dilakukan secara kreatif dan tetap bernilai,” ujarnya.

Dalam sesi praktik, peserta diajak mengamati dan terlibat langsung dalam proses pengolahan sisa malam Batik Gedi. Limbah yang lazimnya dibuang itu diubah menjadi lilin aromaterapi. 

Sisa malam juga dimanfaatkan kembali sebagai bahan mencanting kain batik.

Menurut Kepala Sekolah, air limbah malam yang semula bersifat basa dinetralkan melalui kolam tanaman enceng gondok sebelum dibuang. 

Pendekatan ini disebut sebagai bagian dari komitmen sekolah terhadap ecological awareness, sejalan dengan konsep School for Life yang mereka usung.

Selain pengolahan limbah batik, tamu internasional diperkenalkan pada produk turunan daun gedi. Produk pangan seperti siomay gedi, nasi bakar gedi, G-Stick berbahan daun gedi, dan minuman G-Fit dari buah mengkudu disajikan dalam sesi demonstrasi. 

Minuman tradisional sinom juga dihidangkan, dengan bahan baku yang sebagian dihasilkan dari greenhouse sekolah.

Inovasi lainnya adalah Kertas Gedi, produk daur ulang berbahan daun gedi yang telah memperoleh Hak Cipta dari Kementerian Hukum dan HAM. 

Kertas ini memiliki tekstur khas dan aroma alami. Sebagian limbah daun diolah menjadi bunga kering dan kompos untuk kebutuhan lingkungan sekolah.

Dalam sesi keterampilan, peserta mengikuti praktik pyrography—melukis di atas papan kayu menggunakan alat pemanas. 

Beberapa kerajinan lain yang ditampilkan mencakup produk serat dari pelepah pisang dan daun pandan, seperti hiasan dinding, alas gelas, penutup toples, dan aromaterapi gantung.

Ellissa, mahasiswa asal Malaysia, menilai karya siswa menunjukkan latihan yang konsisten. Ia mengapresiasi kualitas pendampingan guru dalam membangun keterampilan peserta didik.

Nicole, mahasiswa dari Kanada, menyatakan ketertarikannya pada proses membatik dan pengolahan limbah. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan saat menggunakan solder dalam praktik pyrography, namun merasa puas dengan hasil akhirnya.

Produk unggulan lain yang dipresentasikan adalah Batik Gedi bermotif daun gedi, yang juga telah mendapatkan Hak Cipta. 

Sekolah menyebut pengembangan motif ini sebagai bagian dari inovasi batik ramah lingkungan.

Titris menegaskan bahwa berbagai produk tersebut tidak semata ditujukan untuk komersialisasi. Sekolah, kata dia, berfokus pada pembentukan karakter dan jiwa kewirausahaan siswa.

“Kami memberi ruang kreativitas. Soal pengembangan usaha, itu pilihan mereka di masa depan,” ujarnya.

Kunjungan ini memperlihatkan bagaimana institusi pendidikan menengah dapat menjadi ruang diplomasi budaya sekaligus laboratorium praktik pembangunan berkelanjutan. 

Dari pengolahan limbah hingga inovasi produk, pendekatan berbasis lokal itu diperkenalkan kepada komunitas akademik internasional sebagai bagian dari dialog global tentang lingkungan dan kreativitas. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update