Notification

×

Iklan

Iklan

RS UNAIR Kupas Tuntas Puasa Aman bagi Pasien Ginjal dan Maag, Ini Panduan Medisnya

Rabu, 18 Februari 2026 | Februari 18, 2026 WIB Last Updated 2026-02-18T16:21:04Z
Kilas Java Surabaya - Ramadan kerap menjadi momen refleksi spiritual. Namun bagi penyintas gangguan ginjal dan lambung, bulan puasa menghadirkan dilema medis yang tak sederhana. Di satu sisi ada dorongan ibadah, di sisi lain terdapat risiko kesehatan yang tak bisa diabaikan.

Menjawab kegelisahan itu, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) menggelar seminar bertajuk Ramadan Bermakna: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung. 

Kegiatan yang berlangsung di Hall Wikrama, Graha Trimed RS UNAIR tersebut menghadirkan dua dokter spesialis penyakit dalam, dr Mutiara Rizki Haryati SpPD K-GH dan dr Andi Ratna Maharani SpPD.

Seminar ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan upaya edukatif berbasis evidensi medis agar masyarakat tidak mengambil keputusan berpuasa secara serampangan.

Dalam paparannya, dr Mutiara menjelaskan bahwa penyakit ginjal terbagi menjadi dua kategori utama: akut dan kronis. 

Penyakit ginjal akut muncul secara mendadak, sedangkan ginjal kronis berlangsung setidaknya tiga bulan dan bersifat progresif.

Pada kasus kronis, tingkat keparahan dibagi menjadi lima stadium berdasarkan penurunan fungsi ginjal. Di sinilah pertimbangan medis menjadi krusial.

Pasien stadium satu dan dua, menurutnya, umumnya masih memiliki fungsi filtrasi yang relatif baik sehingga diperbolehkan berpuasa dengan pengawasan. 

Namun ketika memasuki stadium 3a, puasa mulai menjadi area abu-abu dan memerlukan evaluasi ketat. Stadium 3b lebih dianjurkan untuk tidak berpuasa demi menjaga stabilitas fungsi ginjal.

Adapun stadium empat dan lima, khususnya yang belum menjalani dialisis, tidak direkomendasikan berpuasa. Risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit dapat mempercepat kebutuhan cuci darah.

Pasien yang sedang menjalani terapi rutin, termasuk dialisis, secara tegas tidak dianjurkan berpuasa. Selain alasan medis, tindakan terapi itu sendiri dapat membatalkan puasa. 

Sementara pasien pasca transplantasi ginjal, disarankan menunggu setidaknya satu tahun sebelum mempertimbangkan kembali ibadah puasa.

Ia menekankan pentingnya konsultasi individual sebelum Ramadan. Gejala dan respons tubuh setiap pasien tidak identik. Keputusan berpuasa tidak bisa digeneralisasi.

Bagi pasien ginjal yang dinyatakan aman berpuasa, prinsip utamanya adalah menjaga hidrasi dan mengatur asupan. Konsumsi cairan harus cukup saat berbuka hingga sahur. Makanan tinggi fosfat dan kalium perlu dibatasi untuk mencegah komplikasi metabolik.

Sementara itu, dr Andi Ratna Maharani menyoroti gangguan lambung, khususnya dispepsia atau yang populer disebut maag. Ia menilai gangguan ini kerap diremehkan karena dianggap hanya akibat terlambat makan.

Padahal, faktor pencetusnya jauh lebih kompleks. Pola konsumsi makanan pedas, asam, berlemak, dan olahan berlebihan meningkatkan risiko iritasi lambung. Ditambah minuman berkafein dan bersoda, kondisi ini semakin memperberat kerja saluran cerna.

Gaya hidup turut berperan signifikan. Stres, kebiasaan merokok, konsumsi obat antinyeri tanpa pengawasan, langsung berbaring setelah makan, hingga porsi makan berlebihan menjadi pemicu kekambuhan. Kurangnya aktivitas fisik juga memperburuk keadaan.

Menurutnya, Ramadan justru bisa menjadi momentum memperbaiki pola hidup. Dengan pengaturan makan yang disiplin dan menu seimbang saat sahur serta berbuka, sebagian pasien maag tetap dapat menjalankan puasa.

Namun ia mengingatkan adanya tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Nyeri hebat mendadak, muntah terus-menerus, keringat dingin disertai pingsan, muntah darah, atau buang air besar berwarna hitam merupakan gejala serius. 

Dalam kondisi demikian, puasa harus segera dibatalkan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

Seminar ini menegaskan satu prinsip mendasar: puasa bagi pasien dengan penyakit kronis bukan semata persoalan kuat atau tidak kuat. Ia adalah keputusan medis yang memerlukan evaluasi objektif.

Dalam konteks kesehatan modern, ibadah tidak ditempatkan sebagai tindakan yang mengabaikan keselamatan tubuh. Sebaliknya, ia menuntut kesadaran dan tanggung jawab terhadap kondisi diri.

RS UNAIR menempatkan edukasi sebagai instrumen preventif agar masyarakat tidak terjebak pada persepsi keliru. 

Ramadan dapat dijalani secara bermakna tanpa mengorbankan stabilitas kesehatan—selama keputusan diambil berdasarkan pertimbangan ilmiah dan konsultasi profesional.

Bagi pasien ginjal dan gangguan lambung, pesan para dokter itu jelas: kenali stadium penyakit, pahami risiko, dan dengarkan sinyal tubuh. Ibadah yang baik tidak lahir dari pemaksaan, melainkan dari kebijaksanaan dalam menjaga amanah kesehatan. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update