Notification

×

Iklan

Iklan

IM FHISIP Universitas Terbuka Surabaya Perkuat Struktur, Siapkan Program Berdampak Nyata

Minggu, 15 Februari 2026 | Februari 15, 2026 WIB Last Updated 2026-02-15T16:52:40Z
KILAS JAVA, SURABAYA – Obrolan yang mengalir santai di sebuah kafe kawasan Jalan Diponegoro, Minggu (15/2/2026), berubah menjadi forum strategis. Di ruang yang jauh dari kesan formal itu, Ikatan Mahasiswa Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (IM FHISIP) Universitas Terbuka Surabaya merancang arah baru organisasi.

Konsolidasi tersebut menjadi langkah awal fase kepemimpinan baru IM FHISIP setelah proses pemilihan ketua, wakil ketua, sekretaris, dan bendahara yang sebelumnya difasilitasi Ormawa Universitas Terbuka. 

Hadir dalam pertemuan itu Azzam selaku perwakilan Ormawa UT. Dari internal IM FHISIP, tampak Ketua HR Mawardi, Wakil Ketua Maulana Aji Amara, Sekretaris Anisa Faizatul Ummah, serta jajaran pengurus lainnya, Nasya Etika S H, Listya Anggreani, Irna Setyawatu, Moch Firdaus, Jaenal abidin, Hizkia Fernanda Hadir, Satrio Pinandhito, Amanda Auliya, Wyanet zadah Almira.

Agenda yang dibahas bukan sekadar temu kangen atau seremoni pasca-pemilihan. Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi struktur dan perumusan kerangka kerja organisasi. 

Diskusi mengerucut pada satu keputusan strategis: pembentukan divisi-divisi sebagai fondasi gerak.

Bagi Mawardi, organisasi tidak mungkin bertumbuh tanpa kolaborasi yang solid dan kesadaran kolektif atas visi yang sama. 

Pembentukan divisi, tegasnya, bukan sekadar formalitas struktural, melainkan instrumen pembagian tanggung jawab yang terukur dan profesional.

Transparansi menjadi penekanan utama. Menurutnya, kepercayaan antar-pengurus hanya dapat dijaga melalui keterbukaan dalam pengambilan keputusan maupun pengelolaan program. Tanpa transparansi, organisasi akan kehilangan legitimasi internal.

“Transparansi adalah yang terpenting. Ini menyangkut kepercayaan pada masing-masing pengurus. Tanpa transparansi, jangan berharap banyak untuk kemajuan organisasi,” ujarnya.

Wakil Ketua Maulana Aji Amara menambahkan, penyusunan program kerja baru akan dilakukan setelah struktur divisi terbentuk secara final. 

Fondasi yang kokoh, kata dia, harus didahulukan sebelum berbicara agenda teknis.

“Untuk saat ini kita fokus dulu pada hal yang mendasar, yaitu pembentukan divisi. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga kekompakan,” katanya.

Forum itu juga memberi ruang partisipasi terbuka. Setiap calon pengurus dipersilakan menyampaikan gagasan dan pandangan. 

Pola dialog yang inklusif ini menandai komitmen IM FHISIP untuk membangun kultur organisasi yang partisipatif, bukan elitis.

Mengelola organisasi mahasiswa di lingkungan Universitas Terbuka memang memiliki tantangan tersendiri. Sebagai perguruan tinggi berbasis pembelajaran jarak jauh, dinamika mahasiswa tidak terpusat dalam satu lokasi.

Interaksi lebih dominan berlangsung secara daring, sementara pertemuan luring bersifat momentum.

Kondisi ini menuntut manajemen organisasi yang adaptif dan berbasis sistem. Struktur yang jelas dan fungsional menjadi kebutuhan utama. 

Divisi akademik, pengabdian masyarakat, media dan komunikasi, serta pengembangan minat bakat dapat menjadi poros kerja yang menjawab kebutuhan mahasiswa UT.

Selain itu, komunikasi digital yang konsisten menjadi keniscayaan. Optimalisasi platform komunikasi, manajemen grup, serta dokumentasi kegiatan harus dikelola secara profesional agar ritme organisasi tetap terjaga meski tanpa intensitas tatap muka yang tinggi.

Aspek administrasi dan keuangan juga tak luput dari sorotan. Setiap program harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara terdokumentasi. 

Laporan yang terbuka bukan hanya memperkuat akuntabilitas, tetapi juga membangun reputasi organisasi di mata anggota.

Lebih jauh, orientasi dampak menjadi parameter penting. Organisasi mahasiswa tidak cukup hanya aktif di ruang internal. 

Program kerja harus mampu menjawab kebutuhan sosial dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. 

Semangat tridarma, terutama pengabdian kepada masyarakat, menjadi pijakan normatif yang relevan.

Konsolidasi di kafe Diponegoro itu mungkin tampak sederhana. Namun dari meja diskusi yang bersahaja tersebut, lahir komitmen untuk membangun organisasi yang bukan hanya hidup secara administratif, tetapi juga relevan secara sosial.

Di akhir, Mawardi menegaskan, dengan fondasi divisi yang kuat, transparansi yang terjaga, serta kekompakan yang dirawat, IM FHISIP Universitas Terbuka Surabaya berpeluang menjadi model organisasi mahasiswa yang adaptif di era pembelajaran jarak jauh. 

Langkah kecil dari ruang kafe itu bisa menjadi pijakan besar bagi masa depan organisasi. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update