Kilas Java, Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menorehkan inovasi melalui riset doktoral yang menyentuh sisi paling manusiawi dari layanan kesehatan: ruang penyembuhan bagi pasien kanker anak.
Dosen Departemen Desain Interior ITS, Dr Anggra Ayu Rucitra ST MMT, menggagas model lingkungan penyembuhan berbasis stimulasi multisensori adaptif yang dirancang khusus untuk mendukung kondisi psikologis anak dalam perawatan paliatif.
Disertasi berjudul Model Lingkungan Penyembuhan Pasien Kanker Anak Melalui Stimulasi Multisensori Adaptif itu dipertahankan dalam sidang promosi doktor di Departemen Arsitektur ITS pada Senin, (9/2/2026).
Riset tersebut dibimbing oleh Ir Purwanita Setijanti MSc PhD sebagai promotor dan Dr Asri Dinapradipta MBEnv sebagai ko-promotor.
Anggra menempatkan teori multisensory architecture sebagai landasan utama. Pendekatan ini menekankan pengalaman tubuh yang utuh atau embodied experience, yakni bagaimana ruang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan melalui cahaya, warna, tekstur, material, suhu, hingga kualitas akustik dan kenyamanan termal. Bagi pasien anak yang menjalani kemoterapi, elemen-elemen tersebut bukan sekadar aspek estetika, melainkan faktor yang memengaruhi emosi, persepsi, dan ketahanan psikologis.
Motivasi riset ini berangkat dari pengalaman personal. Anggra menyaksikan secara langsung perjuangan putra sahabatnya melawan kanker.
Ia melihat bagaimana ruang perawatan yang kaku dan steril dapat memperberat beban psikologis anak maupun keluarga. Dari situ muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana desain interior fasilitas kesehatan mampu berkontribusi terhadap proses penyembuhan?
“Ruang-ruang dalam fasilitas kesehatan bisa memengaruhi kondisi psikologis dan mendukung proses penyembuhan dalam ranah palliative care,” ujarnya.
Untuk memperkaya perspektif akademiknya, Anggra menjalani program magang riset di Shibaura Institute of Technology, Tokyo, Jepang, pada Februari 2023.
Di sana, ia mengembangkan model integratif yang menghubungkan faktor internal pasien—seperti kondisi emosi, usia perkembangan, dan respons sensorik—dengan atribut fisik ruang. Integrasi ini menghasilkan kerangka desain yang adaptif, bukan generik.
Hasil risetnya merumuskan daftar faktor multisensori spesifik yang relevan untuk ruang kemoterapi anak di Indonesia. Pendekatan tersebut berbasis evidence-based design, yakni perancangan yang bertumpu pada temuan ilmiah dan data empiris.
Model ini diharapkan dapat menjadi pedoman praktis bagi arsitek, desainer interior, serta pengelola rumah sakit dalam merancang fasilitas paliatif anak yang lebih suportif dan inklusif.
Secara konseptual, riset ini memperluas cakrawala desain interior dari sekadar estetika menuju ranah terapeutik.
Ruang diposisikan sebagai medium intervensi non-medis yang mampu memperkuat kualitas hidup pasien, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Inovasi tersebut juga selaras dengan agenda Sustainable Development Goals. Selain mendukung tujuan ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, model ini turut berkontribusi pada tujuan ke-10 mengenai pengurangan kesenjangan.
Prinsip inklusivitas menjadi fondasi penting, memastikan bahwa fasilitas kesehatan tidak hanya aman secara klinis, tetapi juga ramah secara emosional dan sensorik.
Anggra berharap riset ini menjadi pijakan awal bagi pengembangan studi lingkungan penyembuhan yang lebih mendalam dan kontekstual di Indonesia.
Ia menekankan bahwa kualitas layanan kesehatan tidak semata ditentukan oleh teknologi medis, tetapi juga oleh bagaimana ruang dirancang untuk menghormati pengalaman manusia yang rapuh dan penuh harap.
Di tengah meningkatnya kasus kanker anak dan keterbatasan fasilitas paliatif yang sensitif terhadap kebutuhan psikologis pasien, model yang ditawarkan ITS ini membuka kemungkinan baru.
Desain, dalam perspektif ini, bukan lagi pelengkap, melainkan bagian integral dari proses penyembuhan. (Nay).



