Notification

×

Iklan

Iklan

ITS Bawa Mahasiswa Mancanegara Praktik Keberlanjutan di SMP YPPI-1 Surabaya

Kamis, 12 Februari 2026 | Februari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-02-12T09:36:29Z
KILAS JAVA, SURABAYA – Surabaya kembali menjadi panggung pembelajaran global. Sebanyak 43 delegasi internasional dari 13 negara turun langsung ke SMP YPPI 1 Surabaya dalam rangkaian Community & Technological (CommTECH) Camp Stream 2: SDGs Innovations 2026 yang digagas Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kamis (12/2).

Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan akademik biasa. Para peserta dari Jepang, Malaysia, Thailand, Filipina, Kanada, Taiwan, Rusia, Nepal, Korea, Kamboja, Tiongkok, Vietnam, dan India itu diajak melihat secara konkret bagaimana konsep Sustainable Development Goals (SDGs) diterapkan di lingkungan sekolah.

ITS sengaja membawa peserta internasional keluar dari ruang konferensi. Mereka diperkenalkan pada praktik komunitas berkelanjutan atau sustainable community yang dijalankan siswa dan guru dalam keseharian.

Manager for CommTECH and Short Program Direktorat Kemitraan Global ITS, Muh Wahyu Islami Pratama Maoundu, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat pertukaran budaya sekaligus pemahaman global tentang pembangunan berkelanjutan.

“Peserta dan siswa dapat saling belajar mengenai peran komunitas dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi mengikuti tiga lokakarya interaktif. Sesi pertama memperkenalkan produk olahan khas yang dikembangkan mandiri oleh sekolah. Para peserta tak hanya menyaksikan, tetapi juga ikut mempraktikkan proses memasak bersama siswa.

Interaksi itu menjadi ruang dialog lintas budaya. Resep lokal dipertemukan dengan perspektif global. Diskusi berkembang dari soal rasa hingga isu keberlanjutan bahan baku.

Sesi berikutnya tak kalah menarik. Delegasi diajak mencoba membatik tulis. Mereka memegang canting, menorehkan malam, hingga memahami proses pewarnaan kain yang ramah lingkungan.

Batik bukan sekadar warisan budaya. Di tangan siswa SMP YPPI 1, batik menjadi media edukasi lingkungan. 

Limbah lilin dari proses membatik tidak dibuang percuma. Sisa bahan itu diolah kembali menjadi lilin aromaterapi bernilai ekonomis.

Tak berhenti di situ, proses pencucian kain pun menggunakan metode alami untuk menurunkan kadar pH sebelum air dibuang. Praktik ini menjadi contoh konkret konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.

Pada lokakarya seni dan kerajinan, peserta diajak membuat karya dengan teknik ukir menggunakan solder. Motif berciri khas Indonesia menjadi simbol bahwa inovasi bisa tumbuh dari akar budaya lokal.

Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Dra Titris Hariyanti Utami, menjelaskan bahwa nilai-nilai SDGs telah menyatu dalam kurikulum dan budaya sekolah. Program bersama ITS ini menjadi panggung bagi siswa untuk menunjukkan hasil pembelajaran mereka.

“Karya yang dikembangkan sekolah merupakan hasil kreativitas siswa yang memanfaatkan potensi di lingkungan sekitar,” katanya.

Salah satu peserta asal Kanada, Malissa Hartzenberg dari University of the Fraser Valley, mengaku terkesan dengan pendekatan yang digunakan sekolah. 

Menurutnya, integrasi budaya dan teknologi dalam praktik keberlanjutan memberi perspektif baru.

Ia melihat bagaimana inovasi tidak harus selalu berbasis laboratorium canggih. Justru pendekatan komunitas yang sederhana dan aplikatif mampu memberi dampak nyata.

Program ini sekaligus memperkuat posisi ITS sebagai kampus yang aktif mendorong pencapaian SDGs, terutama pada aspek pendidikan berkualitas, kemitraan global, kota berkelanjutan, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Dari ruang kelas di Surabaya, pesan keberlanjutan digaungkan ke dunia. Surabaya tak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga laboratorium hidup yang menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari sekolah. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update