Kilas Java, Jakarta - Dehidrasi di Indonesia bukan lagi soal kurang minum semata. Ia menjelma menjadi persoalan gaya hidup. Data The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) mencatat 46,1 persen penduduk Indonesia mengalami dehidrasi ringan.
Pada kelompok remaja, angkanya lebih tinggi, mencapai 49,5 persen. Artinya, satu dari dua remaja berada dalam kondisi kurang cairan.
Angka itu seolah menjadi alarm yang nyaris tak terdengar. Dalam keseharian, dehidrasi ringan kerap dianggap sepele.
Padahal, sejumlah publikasi ilmiah dalam National Library of Medicine menyebut kebutuhan cairan orang dewasa berada di kisaran dua hingga 2,5 liter per hari. Kekurangan cairan, meski ringan, dapat memengaruhi konsentrasi, daya tahan tubuh, hingga performa kognitif.
Mengapa persoalan ini terjadi di tengah melimpahnya akses terhadap air minum dalam kemasan?
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Cut M. Hafiah menilai masalahnya bukan pada ketersediaan, melainkan pola.
“Tubuh membutuhkan asupan cairan yang terdistribusi sepanjang hari. Banyak orang minum dalam jumlah besar sekaligus, tetapi tidak teratur. Itu membuat keseimbangan cairan tidak optimal,” ujarnya.
Budaya kerja dan sekolah yang padat turut memperburuk keadaan. Di ruang kelas, botol minum sering kali tersimpan di tas tanpa benar-benar dikonsumsi.
Di kantor, kopi dan minuman berpemanis lebih mudah dijangkau dibanding air putih. Dalam konteks urban, hidrasi kalah oleh ritme cepat dan kebiasaan instan.
Disparitas geografis juga menarik dicermati. Studi THIRST mencatat 24,75 persen remaja di dataran tinggi dan 41,70 persen remaja di dataran rendah mengalami dehidrasi ringan.
Perbedaan ini mengindikasikan bahwa faktor suhu, aktivitas fisik, serta kebiasaan lokal berkontribusi terhadap pola minum masyarakat.
Masalah menjadi lebih kompleks saat memasuki bulan puasa. Waktu konsumsi cairan terbatas pada malam hari hingga menjelang subuh. Tanpa perencanaan, banyak orang hanya minum saat berbuka dan melewatkan distribusi cairan setelahnya. Akibatnya, tubuh memulai hari dalam kondisi defisit.
Dalam lanskap itulah kampanye hidrasi bermunculan. AQUVIVA, merek air minum dalam kemasan dari WINGS Food, misalnya, meluncurkan kampanye 3–2–1. Konsepnya sederhana: tiga botol ukuran 700 mililiter setara dua liter air per hari.
Satu hari, pasti sejuknya. Pendekatan berbasis kemasan ini dirancang agar lebih mudah diingat dan diterapkan.
Senior Brand Manager AQUVIVA, Devi Chrisnatalia, menyebut kampanye tersebut sebagai respons terhadap kesenjangan antara pengetahuan dan praktik.
“Kami melihat banyak orang paham pentingnya dua liter per hari, tetapi kesulitan menerjemahkannya dalam kebiasaan. Pendekatan sederhana membantu membangun rutinitas,” katanya.
AQUVIVA mengusung Teknologi 7 Tahap Nano Purifikasi yang diklaim menjaga kemurnian sekaligus mempertahankan mineral alami. Namun di luar klaim teknologi, isu yang lebih mendasar tetap pada perubahan perilaku.
Pengamat kesehatan masyarakat menilai edukasi hidrasi perlu masuk ke ruang-ruang publik secara lebih sistematis.
Sekolah, kantor, hingga institusi keagamaan dapat menjadi titik intervensi. Tanpa pembiasaan kolektif, kampanye komersial akan sulit berdampak luas.
Krisis hidrasi ini bersifat diam-diam. Ia tidak menimbulkan gejala dramatis, tetapi menggerus produktivitas secara perlahan.
Dalam jangka panjang, kebiasaan kurang minum dapat berkontribusi pada gangguan metabolik dan fungsi ginjal.
Indonesia tengah menikmati bonus demografi. Namun bonus itu mensyaratkan generasi muda yang sehat dan produktif.
Jika hampir separuh remaja berada dalam kondisi dehidrasi ringan, pertanyaannya bukan lagi siapa yang menyediakan air, melainkan siapa yang memastikan kebiasaan minum terbentuk.
Hidrasi adalah disiplin kecil dengan dampak besar. Ia tidak viral, tidak sensasional, tetapi menentukan kualitas hidup.
Di tengah riuhnya kampanye gaya hidup sehat, mungkin inilah saatnya budaya minum air putih ditempatkan kembali sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap. (Nay).



