Notification

×

Iklan

Iklan

Guru Besar UNAIR: Indonesia Terjebak Investment–Output Decoupling, Saatnya Beralih ke Ekonomi Inovasi

Kamis, 12 Februari 2026 | Februari 12, 2026 WIB Last Updated 2026-02-12T10:22:33Z
Kilas Java, Surabaya - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia dinilai menghadapi persoalan yang lebih mendasar ketimbang sekadar fluktuasi siklus bisnis. Persoalan itu adalah stagnasi produktivitas. 

Negara ini, menurut Prof Dr Unggul Heriqbaldi SE MSi PGradDip EC MAppEc, sedang berada di persimpangan: bertahan pada pola lama berbasis akumulasi modal atau berani melompat menuju pertumbuhan berbasis inovasi.

Pandangan itu ia sampaikan dalam orasi ilmiah saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Perdagangan dan Moneter Internasional di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Kamis, 12 Februari 2026, di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C.

Dalam paparannya, Unggul menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai investment–output decoupling. Investasi terus meningkat, tetapi pertumbuhan ekonomi tidak bergerak sebanding. 

Selama dua dekade terakhir, rasio investasi terhadap produk domestik bruto Indonesia berada di kisaran 30 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi bertahan di sekitar 5 persen.

Data global, kata dia, menunjukkan bahwa dunia tidak lagi bergerak menuju konvergensi pendapatan. Negara berkembang semakin sulit mengejar negara maju. 

Di Indonesia, tambahan investasi menghasilkan output yang kian menurun. Penyebabnya, antara lain, alokasi modal ke sektor berproduktivitas rendah, lemahnya ekosistem riset, serta inefisiensi kelembagaan.

Situasi ini menandai berakhirnya efektivitas strategi pertumbuhan yang hanya bertumpu pada penumpukan kapital. Tanpa lonjakan produktivitas, investasi tidak lagi menjadi mesin akselerasi ekonomi.

Unggul menilai pergeseran menuju innovation-led growth menjadi kebutuhan mendesak untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle-income trap. 

Ia mengutip konsep creative destruction, ketika ide dan teknologi baru secara berkelanjutan menggantikan yang lama. Proses itu, menurut dia, merupakan inti dinamika ekonomi modern.

Namun inovasi tidak lahir di ruang hampa. Ia membutuhkan ekosistem. Negara yang unggul bukan semata karena limpahan sumber daya alam, melainkan karena kemampuannya mengonversi pengetahuan menjadi nilai tambah ekonomi. 

Di sinilah peran negara sebagai enabler menjadi krusial: menyediakan insentif riset, menjamin perlindungan hak kekayaan intelektual, serta menjaga kompetisi pasar tetap sehat.

Ia juga menyinggung kebijakan hilirisasi sumber daya alam, termasuk nikel, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi andalan strategi industri nasional. Hilirisasi memang meningkatkan nilai ekspor. Namun, menurut Unggul, kebijakan itu tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi.

Tantangan sesungguhnya adalah memastikan terjadinya knowledge spillover, alih teknologi, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja. Tanpa itu, Indonesia berisiko terjebak pada kapasitas produksi dengan kompleksitas rendah, meskipun volume ekspor meningkat.

Sebagai tawaran solusi, Unggul mengajukan kerangka transformasi 3i: Investment, Infusion of Technology, dan Innovation. Investasi tetap penting, tetapi harus diarahkan ke sektor yang menghasilkan limpahan pengetahuan. 

Infusi teknologi melalui perdagangan dan investasi asing perlu dibarengi penguatan kapasitas serap domestik. Adapun inovasi harus menjadi motor utama penciptaan nilai tambah.

Baginya, masa depan Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi tidak ditentukan oleh besarnya modal yang dihimpun, melainkan oleh kemampuan menciptakan, menyebarkan, dan mengimplementasikan pengetahuan secara berkelanjutan.

Orasi tersebut bukan sekadar refleksi akademik. Ia menjadi pengingat bahwa pertumbuhan 5 persen mungkin cukup untuk bertahan, tetapi tidak cukup untuk melompat. 

Tanpa reformasi struktural yang mendorong produktivitas dan inovasi, akumulasi investasi hanya akan menambah angka, bukan kualitas pertumbuhan.

Di tengah dinamika geopolitik, disrupsi teknologi, dan fragmentasi perdagangan global, pilihan itu menjadi semakin mendesak. Indonesia tidak kekurangan modal. Yang dipertaruhkan adalah keberanian mengubah fondasi pertumbuhan. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update