Kilas Java, Surabaya – Senyum itu tak pernah lepas dari wajah Nabila Yusmawati. Di balik raut tenangnya, tersimpan tekad besar untuk kembali ke tanah kelahirannya, Papua Barat. Rabu (11/2) siang, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) itu resmi dilantik dan diambil sumpahnya sebagai dokter.
Bagi Nabila, momen tersebut bukan garis akhir. Justru menjadi titik awal pengabdian.
Perempuan kelahiran 2000 itu tumbuh di Manokwari dalam keluarga yang lekat dengan nilai kepedulian sosial. Ibunya adalah seorang dokter sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat. Sejak kecil, Nabila kerap diajak mengikuti pelayanan kesehatan ke daerah pedalaman.
Salah satu pengalaman paling membekas adalah perjalanan 12 jam menuju wilayah terpencil. Jarak sebenarnya tak terlalu jauh. Namun kondisi jalan tanah yang berlumpur membuat perjalanan tersendat.
“Nggak terlalu jauh sebenarnya, tapi karena jalannya masih tanah dan berlumpur. Jadi lebih lama karena terjebak dan nunggu bantuan,” tuturnya.
Pengalaman itu membuka matanya. Ia menyadari akses kesehatan di wilayahnya belum sepenuhnya merata. Kehadiran tenaga medis masih menjadi kebutuhan mendesak, terutama di daerah pedalaman.
Nabila juga menyaksikan langsung bagaimana masyarakat menyambut pelayanan kesehatan dengan antusias. Edukasi yang diberikan sang ibu disambut hangat. Tak jarang, warga memberikan hasil kebun sebagai tanda terima kasih.
Momen-momen sederhana itu justru membekas kuat. Ia merasakan betapa besar arti kehadiran seorang dokter di tengah masyarakat yang terbatas aksesnya.
Sejak SMA, Nabila mantap memilih jalur kedokteran. Inspirasi terbesarnya adalah sang ibu. Dedikasi dan konsistensi dalam melayani masyarakat Papua Barat menjadi contoh nyata baginya.
Selain itu, ia pernah membaca kisah dokter yang membangun Rumah Sakit Apung untuk memberikan pelayanan gratis di daerah 3T. Cerita tersebut semakin menguatkan niatnya untuk berkontribusi di wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan.
Orang tuanya tidak pernah memaksakan pilihan. Syaratnya hanya satu: yakin dan serius. Sebab, menurut mereka, masuk fakultas kedokteran mungkin bisa dicapai dengan kemampuan akademik. Namun menyelesaikannya membutuhkan komitmen dan ketahanan mental.
Semangat itu juga menular pada adik-adiknya. Adik pertamanya kini menjalani koas tahun kedua di FK Unusa. Sementara adik bungsunya menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Negeri Jember.
Dalam keluarga, nilai yang selalu ditekankan sederhana tetapi kuat: rendah hati, tidak sombong, tidak merendahkan orang lain, serta membiasakan diri mengucapkan terima kasih, tolong, dan maaf.
Selain akademik, Nabila aktif dalam Tim Bantuan Medis (TBM) FK Unusa dan berbagai kegiatan volunteer. Interaksi dengan beragam karakter pasien dan latar belakang sosial membuatnya belajar empati dan komunikasi.
Kini, di usia 25 tahun, ia menatap fase baru sebagai dokter umum. Target jangka pendeknya jelas: kembali ke Papua dan memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat.
“Untuk saat ini mau fokus dulu di dokter umum dan memberikan pelayanan di Papua. Kalau ambil spesialis, inginnya yang memang dibutuhkan di sana,” ujarnya.
Spesialis anak serta kulit dan kelamin menjadi pertimbangan. Ia melihat biaya layanan spesialis kulit dan kelamin masih relatif mahal. Ke depan, ia ingin menghadirkan layanan yang lebih terjangkau bagi masyarakat Papua.
Pilihan Nabila mencerminkan persoalan klasik sistem kesehatan nasional: ketimpangan distribusi tenaga medis. Banyak dokter terkonsentrasi di kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan.
Di tengah realitas itu, langkah Nabila menjadi sinyal optimistis. Ia tidak hanya membawa gelar dokter, tetapi juga visi tentang pemerataan layanan kesehatan.
Dari Surabaya, ia bersiap kembali ke Manokwari. Bukan sekadar pulang kampung, melainkan membawa ilmu dan komitmen untuk memastikan masyarakat di tanah Papua mendapatkan hak kesehatan yang setara. (Nay).



