Notification

×

Iklan

Iklan

ITS Bidik Jejaring Global, Swedia Tawarkan Jalur Studi dan Karier

Jumat, 13 Februari 2026 | Februari 13, 2026 WIB Last Updated 2026-02-13T05:49:35Z
Kilas Java, Surabaya – Arah internasionalisasi kampus makin konkret di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Kunjungan Duta Besar Swedia untuk Indonesia ke kampus ITS, Kamis (12/2/2026) sore, menjadi sinyal kuat bahwa kolaborasi pendidikan tinggi tak lagi sebatas pertukaran mahasiswa, melainkan merambah ke akses industri dan riset strategis.

Pertemuan yang berlangsung di Gedung Rektorat itu mempertemukan jajaran pimpinan ITS dengan perwakilan Kedutaan Besar Swedia. Agenda utamanya jelas: memperluas jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi yang lebih berdampak.

Rektor ITS Bambang Pramujati menegaskan hubungan dengan sejumlah kampus di Swedia bukan hal baru. Selama ini ITS telah menjalin kerja sama dengan KTH Royal Institute of Technology, Stockholm School of Economics, dan University of Borås. Kolaborasi tersebut meliputi riset bersama, mobilitas mahasiswa, hingga penguatan kapasitas akademik.

Menurut Bambang, kunjungan ini menjadi momentum untuk naik kelas. ITS menawarkan penguatan International Undergraduate Program (IUP), skema gelar ganda, hingga peluang terhubung dengan industri teknologi di Swedia. “Mahasiswa harus mendapat pengalaman global yang relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Ia menilai internasionalisasi tak boleh berhenti pada simbol kerja sama. Perguruan tinggi harus mampu membuka jalur nyata bagi mahasiswa dan alumni untuk menembus pasar kerja internasional. Dengan jejaring yang tepat, lulusan tidak hanya kompetitif di dalam negeri, tetapi juga di kancah global.

Tak hanya mengirim mahasiswa ke luar negeri, ITS juga mendorong arus sebaliknya. Kampus ini membuka peluang mahasiswa Swedia belajar di Surabaya melalui program pertukaran dan magang jangka pendek. Skema dua arah itu diyakini memperkaya perspektif akademik sekaligus mempererat hubungan antarlembaga.

Duta Besar Swedia untuk Indonesia Daniel Blockert menyebut kolaborasi dengan ITS menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah universitas di Swedia, kata dia, menilai ITS sebagai mitra aktif dan potensial di kawasan Asia Tenggara.

Ia juga mencermati meningkatnya minat mahasiswa Swedia untuk menempuh studi di Indonesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai dilihat sebagai destinasi akademik yang menjanjikan, terutama dalam bidang teknologi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Daniel mendorong agar pertemuan lanjutan segera digelar untuk mematangkan agenda kolaborasi. Fokusnya tidak hanya pada pendidikan, tetapi juga riset bersama dan kemitraan dengan sektor industri. 

“Kami ingin memastikan kerja sama ini berlanjut dalam bentuk program konkret,” katanya.

Kerja sama ITS dan Swedia juga selaras dengan agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pendidikan berkualitas dan kemitraan global. 

Perguruan tinggi menjadi jembatan penting dalam diplomasi pengetahuan dan inovasi lintas negara.

Bagi ITS, kolaborasi ini memperkuat posisi sebagai kampus teknologi yang aktif membangun jaringan internasional. Bagi Swedia, kemitraan dengan Indonesia membuka akses pada talenta muda dan potensi riset di negara berkembang dengan pertumbuhan dinamis.

Di tengah persaingan global memperebutkan sumber daya manusia unggul, kolaborasi lintas negara menjadi kebutuhan strategis. 

Kunjungan tersebut menegaskan bahwa ITS tak sekadar mengejar reputasi, melainkan membangun ekosistem global yang membuka peluang nyata bagi mahasiswanya.

Jika langkah ini konsisten, bukan tak mungkin lebih banyak mahasiswa ITS yang melanjutkan studi, riset, hingga berkarier di Eropa. Sebaliknya, Surabaya pun berpeluang menjadi ruang belajar global yang kian diminati mahasiswa mancanegara. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update