KILAS JAVA, SURABAYA — Kebutuhan dokter spesialis di Indonesia yang masih belum merata mendorong perguruan tinggi mengambil langkah konkret. Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya resmi membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi serta Bedah dalam peluncuran bersama yang dipusatkan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Sabtu, 21 Februari 2026.
Bagi Universitas Ciputra, pembukaan PPDS bukan sekadar ekspansi program akademik. Dekan Fakultas Kedokteran, Prof. Dr. dr. Hendy Hendarto, SpOG Subsp FER, menilai langkah ini sebagai bagian dari tanggung jawab institusi pendidikan untuk menjawab ketimpangan distribusi dokter spesialis, terutama di kawasan Indonesia Timur yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan rujukan.
Ia menegaskan, percepatan pemenuhan jumlah spesialis harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu. Pendidikan, menurut dia, tidak boleh berhenti pada pencapaian kompetensi klinis dasar.
Lulusan harus memiliki wawasan global serta kesiapan menghadapi transformasi teknologi di sektor kesehatan yang berkembang cepat.
Sebagai penopang visi tersebut, Universitas Ciputra membangun kolaborasi dengan sejumlah institusi luar negeri, antara lain International Medical University, International Islamic University Malaysia, Niigata University, dan Mackay Memorial Hospital.
Kerja sama itu membuka peluang bagi peserta didik mengikuti observership dan pelatihan klinis langsung di rumah sakit mitra.
Melalui skema tersebut, dokter residen dapat menyaksikan dan terlibat dalam praktik pelayanan pasien di lingkungan internasional.
Paparan lintas sistem kesehatan itu dinilai penting untuk memperluas perspektif klinis serta memahami standar pelayanan global yang dapat diadaptasi di dalam negeri.
Di sisi lain, fakultas menempatkan riset sebagai komponen integral pendidikan spesialis. Setiap peserta didik diwajibkan menghasilkan penelitian sebagai bagian dari proses akademik.
Pendekatan ini dimaksudkan untuk membentuk dokter spesialis yang tidak hanya piawai secara praktik, tetapi juga memiliki kontribusi ilmiah terhadap pengembangan ilmu kedokteran.
Ekosistem inovasi kampus turut diperkuat dengan keberadaan Apple Developer Academy di lingkungan universitas.
Kehadiran pusat pengembangan aplikasi tersebut memungkinkan kolaborasi antara tenaga medis dan pengembang teknologi untuk merancang solusi digital health, mulai dari aplikasi klinis hingga sistem pendukung pengambilan keputusan medis.
Universitas Ciputra juga menyiapkan skema beasiswa bagi peserta didik yang berasal dari Indonesia Timur dengan komitmen kembali mengabdi di daerah asal. Skema ini dirancang untuk memastikan pendidikan spesialis berkontribusi langsung pada pemerataan layanan kesehatan.
Pembangunan tower khusus Fakultas Kedokteran sebagai pusat pendidikan dan pelatihan klinis modern turut melengkapi infrastruktur pendukung.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi ruang integrasi pembelajaran, simulasi klinis, riset, dan pengembangan teknologi kesehatan dalam satu ekosistem.
Peluncuran bersama dengan Unusa dan UHT memperlihatkan model kolaborasi antarinstitusi dalam menjawab tantangan nasional di bidang kesehatan.
Di tengah kebutuhan dokter spesialis yang terus meningkat, FK Universitas Ciputra menempatkan PPDS sebagai instrumen strategis untuk memperkuat kualitas sekaligus memperluas akses layanan kesehatan di Indonesia. (Nay).

