KILAS JAVA, SURABAYA — Indonesia masih menghadapi defisit dokter spesialis dalam jumlah signifikan. Masalahnya bukan hanya soal angka total yang belum memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga distribusi yang timpang antarwilayah.
Dampaknya terasa di lapangan: antrean layanan memanjang, penanganan kasus kritis tertunda, dan akses layanan kesehatan berkualitas lebih terkonsentrasi di kota-kota besar.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi merespons situasi ini dengan mempercepat pembukaan program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis.
Sepanjang 2025–2026, sekitar 156 hingga 160 program baru dibuka, sehingga total program pendidikan dokter spesialis nasional meningkat dari 366 menjadi sekitar 526 program. Komposisinya meliputi 126–128 program dokter spesialis dan 30–32 program subspesialis.
Langkah percepatan itu juga tampak di daerah. Tiga fakultas kedokteran di Surabaya secara serentak meluncurkan sembilan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru, Sabtu (21/2), di Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.
Ketiga institusi tersebut ialah Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya, dan Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya.
Peluncuran bersama itu dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Khairul Munadi, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, para ketua yayasan, rektor, dekan, serta perwakilan fakultas kedokteran pembina seperti Universitas Airlangga dan Universitas Sebelas Maret.
Khairul Munadi menyebut pembukaan ratusan PPDS secara nasional sebagai bagian dari strategi sistemik untuk memperbaiki rasio dokter spesialis dan memperkecil jurang layanan antarwilayah.
Pemerintah, kata dia, meningkatkan kapasitas pendidikan hingga lebih dari 8.600 residen baru per tahun.
“Kebijakan ini meningkatkan jumlah program PPDS nasional dari sekitar 366 menjadi lebih dari 500 program. Dengan kapasitas penerimaan sekitar 8.600 residen baru per tahun, langkah ini menjadi strategi penting untuk mengatasi kekurangan puluhan ribu dokter spesialis, mengurangi ketimpangan distribusi layanan kesehatan, dan memastikan masyarakat memperoleh pelayanan medis yang cepat dan berkualitas,” ujarnya.
Secara nasional, Kementerian pada 2025 menargetkan pembukaan 148 program studi PPDS di 57 fakultas kedokteran. Realisasinya melampaui target dengan capaian sekitar 156–160 program baru.
Pemerintah memperkirakan Indonesia masih membutuhkan puluhan ribu dokter spesialis tambahan untuk memenuhi standar rasio ideal dan menjangkau seluruh wilayah.
Di tingkat daerah, kontribusi Surabaya terhitung signifikan. Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membuka dua PPDS: Spesialis Obstetri dan Ginekologi serta Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi.
Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya membuka Spesialis Obstetri dan Ginekologi serta Spesialis Bedah.
Adapun Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya membuka lima program: Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Spesialis Bedah, Spesialis Ilmu Kesehatan Anak, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, serta Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif.
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya yang menaungi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Mohammad Nuh, menilai kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapasitas layanan kesehatan nasional.
Menurut dia, perguruan tinggi memiliki posisi sentral dalam menjawab kebutuhan dokter spesialis di berbagai bidang krusial, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga perawatan intensif.
“Melalui pembukaan sembilan program PPDS ini, kami berkomitmen mempercepat pemenuhan tenaga dokter spesialis yang kompeten, beretika, dan siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia,” kata Nuh.
Ia menambahkan, kolaborasi ini tidak semata penambahan program pendidikan, melainkan bagian dari gerakan bersama memperkuat sistem kesehatan nasional.
Dengan dukungan rumah sakit pendidikan dan jejaring layanan kesehatan, program dirancang untuk melahirkan dokter spesialis yang unggul secara klinis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi medis, sekaligus memiliki kepekaan sosial terhadap kebutuhan masyarakat. (Nay).

