Notification

×

Iklan

Alumni ITS Jadi Profesor di Inggris, Inovasi Digital Twins Ubah Strategi Mitigasi Bencana

Jumat, 20 Februari 2026 | Februari 20, 2026 WIB Last Updated 2026-02-20T07:38:32Z
Kilas Java, Surabaya - Bagi Prof Dr Bhakti Stephan Onggo PhD, teknologi tidak boleh berhenti pada kecanggihan teknis. Ia harus menjadi instrumen kemanusiaan. 

Gagasan itulah yang melandasi pengembangan digital twins untuk mitigasi bencana yang kini ia kembangkan bersama almamaternya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Alumnus Teknik Informatika ITS tersebut saat ini berkiprah sebagai profesor bidang Business Analytics di University of Southampton, Inggris. 

Di ranah global, ia dikenal sebagai pakar simulasi dan business analytics. Namun fondasi intelektualnya dibangun sejak menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Komputer ITS pada akhir 1980-an, yang kini berkembang menjadi Departemen Teknik Informatika.

Menjadi mahasiswa pada 1989 bukan perkara mudah. Fasilitas terbatas memaksa mahasiswa kala itu berjuang ekstra keras mencari sumber belajar. 

Situasi tersebut, menurut Bhakti, justru membentuk karakter mandiri, ulet, dan tahan banting. Kultur akademik yang menuntut ketekunan dan daya juang tinggi menjadi bekal penting saat ia melangkah ke panggung internasional.

Lelaki kelahiran Probolinggo tahun 1970 itu melanjutkan studi magister di Lancaster University, Inggris, pada bidang Operations Research. 

Ia kemudian meraih gelar doktor di National University of Singapore (NUS) dalam bidang Computer Science melalui beasiswa. 

Karier akademiknya berlanjut dengan riset postdoctoral di Inggris sebelum menjadi Assistant Professor, lalu Associate Professor di Trinity College Dublin, Irlandia, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai profesor di Southampton.

Meski berkiprah di luar negeri, Bhakti tidak memutus ikatan dengan Indonesia. Bersama Departemen Teknik Geomatika ITS dan Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS, ia mengembangkan teknologi digital twins untuk aplikasi kebencanaan.

Digital twins merupakan representasi digital dari sistem nyata yang terhubung secara real-time. 

Melalui pendekatan ini, proses pemodelan, analisis, hingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara dinamis dan adaptif mengikuti perubahan kondisi di lapangan.

Riset yang dikembangkan menghasilkan dua aplikasi utama: sistem untuk mempercepat penyelamatan korban dan sistem untuk mengoptimalkan distribusi bantuan. 

Keunikan pendekatan Bhakti terletak pada fokusnya terhadap populasi rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Dalam situasi bencana, kelompok ini kerap menjadi pihak paling terdampak namun paling sulit dijangkau.

Sebagai pakar simulasi, Bhakti menilai paradigma pemodelan konvensional cenderung statis. Model biasanya dibangun berdasarkan asumsi yang tidak selalu memperhitungkan dinamika real-time. 

Integrasi digital twins mengubah pendekatan tersebut. Pengambil kebijakan dapat memprediksi berbagai skenario secara cepat, menguji alternatif respons, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya seperti fasilitas darurat di tengah ketidakpastian.

Dalam konteks kebencanaan, presisi waktu menjadi faktor krusial. Keterlambatan beberapa jam dapat berimplikasi pada hilangnya nyawa. 

Karena itu, integrasi simulasi dan digital twins dinilai menjanjikan untuk meningkatkan efektivitas respons sekaligus memperkuat ketahanan sistem penanggulangan bencana.

Di luar capaian akademiknya, Bhakti menegaskan pentingnya fondasi berpikir logis dan sistematis yang ia peroleh selama kuliah di ITS. 

Kemampuan berpikir kritis, menurutnya, bukan hanya relevan untuk riset, tetapi juga untuk kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menyaring informasi di tengah maraknya hoaks.

Kiprah Bhakti turut menguatkan posisi ITS dalam jejaring akademik global. Kolaborasi lintas negara yang ia bangun menjadi bukti bahwa diaspora Indonesia mampu berkontribusi strategis, baik di panggung internasional maupun bagi tanah air.

Inovasi yang ia kembangkan juga sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya pendidikan berkualitas dan penguatan inovasi serta infrastruktur. 

Baginya, fasilitas memang penting, tetapi kualitas mahasiswa tetap menjadi penentu utama. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update