Bukan Tesla, ITS Kini Punya Teknologi Mobil Listrik Otonom yang Siap Dikembangkan
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA – Bayangkan sebuah mobil listrik yang mampu melaju sendiri, mengenali kondisi jalan, menghindari rintangan, hingga menentukan rute menuju tujuan tanpa harus terus dikendalikan pengemudi. Teknologi yang selama ini identik dengan perusahaan otomotif dunia seperti Tesla kini mulai dikembangkan di Indonesia melalui riset Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Inovasi tersebut lahir dari tim peneliti Departemen Teknik Elektro ITS yang dipimpin Dr. Rudy Dikairono ST MT. Mereka mengembangkan sistem autonomous driving untuk mobil listrik yang dirancang agar dapat diimplementasikan pada kendaraan yang sudah beredar di Indonesia.
Menurut Rudy, perkembangan kendaraan otonom merupakan arah baru industri transportasi global. Negara-negara maju telah mulai mengoperasikan robotaxi atau taksi tanpa pengemudi, sementara produsen otomotif terus berlomba mengembangkan kendaraan berbasis kecerdasan buatan.
"Teknologi kendaraan otonom bukan lagi sekadar konsep masa depan. Perkembangannya berlangsung sangat cepat dan akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat," ujarnya.
Ia menjelaskan, kendaraan premium seperti Tesla maupun BMW telah dibekali fitur autonomous driving yang semakin canggih. Sebaliknya, sebagian besar mobil listrik yang beredar di Indonesia masih mengandalkan Advanced Driver Assistance System (ADAS), yakni teknologi bantuan mengemudi yang fungsinya masih terbatas membantu pengemudi, bukan menggantikannya.
Melihat peluang tersebut, tim ITS mengambil pendekatan berbeda. Mereka tidak membangun kendaraan dari nol, melainkan mengembangkan sistem kendali baru pada mobil listrik yang sudah tersedia di pasaran.
Sistem ADAS bawaan kendaraan dinonaktifkan, kemudian diganti dengan platform autonomous driving hasil pengembangan peneliti ITS. Pendekatan ini dinilai lebih efisien sekaligus membuka peluang penerapan teknologi secara lebih luas.
"Untuk mobil yang sudah memiliki ADAS, sistem bawaan kami matikan lalu kami integrasikan dengan sistem otonom yang kami kembangkan," kata Rudy.
Mobil listrik dipilih karena memiliki sistem elektronik yang lebih mudah diintegrasikan dengan berbagai perangkat digital. Hal tersebut membuat proses pemasangan sensor maupun komputer pengendali menjadi lebih sederhana dibanding kendaraan konvensional.
Hasil pengembangan memungkinkan kendaraan beroperasi dalam dua pilihan, yakni mode manual dan mode otonom. Pengemudi tetap dapat mengambil alih kendali kapan pun diperlukan sehingga aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
"Kami ingin menghadirkan solusi kendaraan otonom yang lebih inklusif dan dapat dikembangkan dengan biaya yang lebih terjangkau," ujar Rudy.
Agar kendaraan mampu memahami lingkungan sekitar, tim ITS melengkapinya dengan berbagai sensor berteknologi tinggi. Salah satunya adalah Light Detection and Ranging (LiDAR), sensor laser yang mampu memetakan objek di sekitar kendaraan secara presisi.
Teknologi tersebut dipadukan dengan GPS dan peta digital sehingga kendaraan dapat mengetahui posisi, membaca kondisi jalan, mengenali objek di sekitarnya, hingga menghitung jalur perjalanan paling sesuai secara otomatis.
Sistem navigasi berbasis kecerdasan buatan juga memungkinkan kendaraan melakukan penyesuaian rute ketika menghadapi hambatan di jalan. Seluruh proses berlangsung melalui pengolahan data secara real time sehingga mobil mampu mengambil keputusan secara mandiri.
"Sistem kami membuat mobil mampu mengenali lingkungan dan menentukan rute secara mandiri," tutur Rudy.
Pengujian teknologi telah dilakukan di kawasan kampus ITS. Selama uji coba, kendaraan berhasil mendeteksi berbagai objek di depannya dan memberikan respons sesuai kondisi yang dihadapi.
Menurut Rudy, aspek keamanan menjadi fokus utama dalam setiap tahap pengembangan. Tim peneliti terus menyempurnakan algoritma agar kendaraan mampu merespons situasi lalu lintas secara lebih cepat dan akurat.
"Kami terus meningkatkan aspek keamanan agar kendaraan semakin responsif terhadap kondisi jalan," katanya.
Tahap pengembangan berikutnya diarahkan pada kemampuan yang lebih kompleks, seperti melakukan manuver menyalip kendaraan lain, mengatur kecepatan secara otomatis sesuai situasi lalu lintas, hingga meningkatkan akurasi pengambilan keputusan dalam berbagai kondisi jalan.
Tidak hanya ditujukan bagi sektor transportasi, teknologi sistem kendali otonom yang dikembangkan ITS juga diproyeksikan dapat dimanfaatkan pada kendaraan pertanian, robot industri, hingga sistem logistik cerdas.
Peluang tersebut dinilai membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam mempercepat lahirnya inovasi berbasis teknologi di Indonesia.
"Kami terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai mitra industri agar teknologi ini dapat diterapkan dalam berbagai sektor," ujar Rudy.
Riset kendaraan otonom tersebut menjadi bagian dari upaya ITS memperkuat ekosistem inovasi nasional sekaligus mendorong lahirnya teknologi transportasi cerdas yang mampu meningkatkan daya saing industri Indonesia di tengah percepatan transformasi digital global. (Nayla).