Majelis Ar-Rohimin Surabaya Kupas Bidayatul Hidayah, Hati Disebut Kunci Delapan Pintu Surga
KILAS JAVA, SURABAYA – Kesalahan manusia kerap bermula dari hal yang dianggap sepele. Tatapan mata yang tak terjaga, ucapan yang tak terkendali, hingga langkah kaki yang mengarah pada kemaksiatan dapat menjadi pintu lahirnya dosa. Pesan itulah yang mengemuka dalam kajian rutin Majelis Ar-Rohimin, Rabu (15/7/2026) malam, di Gedung Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Asemrowo, Surabaya.
Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa bin Zein Al-Alydrus, melanjutkan pembahasan Kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al-Ghazali.
Kitab klasik tersebut merupakan salah satu rujukan utama dalam pendidikan akhlak dan tasawuf yang hingga kini dipelajari di berbagai pesantren, termasuk melalui penjelasan ulama besar Nusantara, Syaikh Nawawi al-Bantani.
Menurut Habib Musthofa, pembahasan mengenai hifzhul jawarih atau menjaga anggota badan dari perbuatan maksiat menjadi fondasi penting dalam membangun karakter seorang muslim. Sebab, seluruh perilaku manusia berawal dari bagaimana ia mengendalikan anggota tubuh yang telah diamanahkan Allah SWT.
Dalam kitab tersebut, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia memiliki tujuh anggota badan yang menjadi pintu utama menuju ketaatan maupun kemaksiatan, yakni mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan, dan kaki. Ketujuhnya bukan sekadar organ tubuh, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.
"Mata, telinga, lidah, tangan, kaki, perut, dan kemaluan harus dijaga. Dari anggota badan inilah banyak dosa bermula apabila tidak dikendalikan dengan ketakwaan," ujar Habib Musthofa di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan, penyalahgunaan mata dapat menumbuhkan syahwat dan iri hati. Telinga bisa menjadi jalan masuk gibah maupun fitnah. Lidah berpotensi melahirkan kebohongan, adu domba, serta ucapan yang menyakiti orang lain.
Demikian pula tangan, kaki, perut, dan kemaluan yang apabila digunakan di luar tuntunan syariat dapat menyeret seseorang kepada berbagai bentuk kemaksiatan.
Habib Musthofa kemudian mengulas hubungan antara penjagaan anggota badan dengan gambaran kehidupan akhirat sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali.
Neraka disebut memiliki tujuh pintu yang disediakan bagi pelaku dosa sesuai tingkat kemaksiatannya. Tingkatan tersebut dikenal dengan nama Jahannam, Lazha, Al-Huthamah, Sa'ir, Saqar, Jahim, dan Hawiyah.
Sebaliknya, surga memiliki delapan pintu. Menurutnya, jumlah itu mengandung makna yang mendalam. Selain tujuh anggota badan yang digunakan untuk beramal saleh, terdapat satu unsur yang menjadi penentu diterimanya seluruh amal, yakni hati.
"Hati adalah pusat keikhlasan, keimanan, dan niat. Ketika hati bersih, seluruh anggota badan akan mengikuti kepada kebaikan. Dari sinilah amal menjadi bernilai di sisi Allah," tuturnya.
Ia menambahkan, menjaga hati sama pentingnya dengan menjaga perilaku lahiriah. Amal yang tampak baik tidak akan mencapai kesempurnaan apabila kehilangan keikhlasan, sementara hati yang dipenuhi penyakit akan memengaruhi setiap tindakan manusia.
Karena itu, setiap muslim dianjurkan membiasakan diri melakukan muhasabah atau introspeksi. Evaluasi terhadap ucapan, pandangan, pendengaran, hingga setiap langkah kehidupan menjadi bagian dari upaya menjaga diri agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT.
Habib Musthofa juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju hidayah tidak lahir secara instan. Jalan tersebut ditempuh melalui mujahadah, yakni kesungguhan melawan hawa nafsu, serta muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi setiap amal dan niat hamba-Nya.
"Jagalah tujuh anggota badanmu dengan ketakwaan, niscaya Allah akan membukakan bagimu pintu-pintu surga. Jangan jadikan nikmat anggota badan sebagai jalan menuju murka-Nya, karena setiap anggota akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat," pesannya.
Suasana kajian berlangsung khidmat. Jamaah tampak menyimak setiap penjelasan yang disampaikan, terutama saat pembahasan menyentuh pentingnya mengendalikan diri di tengah berbagai godaan kehidupan modern.
Melalui kajian Kitab Bidayatul Hidayah, Majelis Ar-Rohimin terus menghadirkan ruang pembelajaran yang menekankan keseimbangan antara pemahaman ilmu, pembinaan akhlak, dan penguatan spiritual sebagai bekal menjalani kehidupan sehari-hari. (Nayla).
#Kontributor: Ustaz Nurul Holil.