KILAS JAVA, KOTA BATU – Transformasi digital tidak lagi sekadar tren di sektor bisnis dan layanan publik. Dunia filantropi Islam pun kini bergerak ke arah yang sama. Lembaga pengelola zakat mulai beradaptasi dengan pola layanan modern untuk menjawab perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi.
Di tengah arus perubahan tersebut, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Jawa Timur menilai kekuatan utama transformasi bukan hanya terletak pada teknologi, melainkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya.
Isu itu menjadi pembahasan utama dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) BMH Jawa Timur yang digelar di Kota Batu, Senin (11/5/2026). Forum tahunan tersebut mempertemukan pengurus dan amil BMH se-Jatim untuk menyusun arah kebijakan lembaga sekaligus mempersiapkan strategi pengelolaan zakat menghadapi tantangan sosial dan ekonomi pada 2027 mendatang.
Mengangkat tema “Transformasi SDM dan Jaringan untuk Akselerasi BMH sebagai Lembaga Zakat Nasional Terdepan”, kegiatan itu menitikberatkan pada penguatan kapasitas amil, perluasan jaringan kelembagaan, serta pengembangan layanan zakat berbasis digital yang lebih akuntabel.
Sekretaris Kelembagaan BMH Perwakilan Jawa Timur, Indokhul Ma’mun, mengatakan era digital menuntut lembaga zakat untuk bergerak lebih adaptif dan profesional. Menurutnya, masyarakat kini tidak hanya membutuhkan kemudahan dalam menyalurkan zakat, tetapi juga transparansi terhadap pengelolaan dana yang mereka amanahkan.
“Digitalisasi memang penting, tetapi yang lebih penting adalah kesiapan SDM di belakangnya. Teknologi hanya alat. Yang menentukan keberhasilan tetap manusianya, terutama dalam menjaga amanah dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, transformasi lembaga zakat saat ini tidak lagi cukup mengandalkan pola penghimpunan konvensional. BMH mulai membangun sistem pelayanan berbasis digital agar proses penghimpunan zakat, infak, dan sedekah dapat dilakukan lebih cepat dan mudah dijangkau masyarakat.
BMH Jawa Timur bahkan telah mengembangkan platform digital internal bernama “Berbagi Kebaikan”. Platform tersebut menjadi sarana penghimpunan dana sosial sekaligus media pelaporan pertanggungjawaban kepada donatur secara daring.
“Kami ingin seluruh proses lebih transparan. Donatur bisa mengetahui bagaimana dana disalurkan dan program apa saja yang dijalankan. Kepercayaan publik harus dijaga dengan pelayanan yang profesional dan terbuka,” ujarnya.
Dalam Rakerwil tersebut, sejumlah agenda strategis turut dibahas. Mulai dari evaluasi program kerja 2026, penyusunan target penghimpunan dana 2027, hingga penguatan kapasitas amil melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi.
BMH juga mendorong perluasan jaringan kemitraan dengan masjid, komunitas sosial, serta lembaga pendidikan di berbagai daerah di Jawa Timur. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan program sekaligus memperkuat ekosistem pemberdayaan umat.
Selain penghimpunan zakat, BMH menyiapkan akselerasi program tematik di sektor pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan kebencanaan. Program-program tersebut diarahkan agar dana zakat tidak hanya bersifat karitatif, tetapi mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Indokhu Ma'munl menegaskan, kondisi ekonomi global yang tidak stabil turut memengaruhi kemampuan masyarakat dalam berdonasi. Karena itu, lembaga zakat dituntut mampu menghadirkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Zakat memiliki fungsi strategis dalam membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara serius, profesional, dan tepat sasaran,” tuturnya.
Sebagai bagian dari penguatan kualitas SDM, BMH juga membuka program sekolah amil. Program tersebut dirancang untuk mencetak pengelola zakat yang memiliki standar kompetensi dalam tata kelola filantropi Islam, pelayanan masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Saat ini sekolah amil BMH telah hadir di tiga wilayah, yakni Kalimantan, Surabaya, dan Jakarta. Melalui program tersebut, para peserta dibekali pemahaman mengenai manajemen zakat, strategi pelayanan donatur, hingga pengembangan program sosial kemanusiaan berbasis pemberdayaan.
BMH Jawa Timur saat ini tercatat memiliki sekitar 22 ribu donatur aktif dan lebih dari 100 ribu donatur insidental. Menurut Indokhul, menjaga hubungan dengan para donatur menjadi bagian penting dalam memperkuat keberlanjutan program sosial lembaga.
“Donatur bukan hanya menitipkan dana, tetapi juga kepercayaan. Karena itu kami berupaya memberikan pelayanan terbaik melalui laporan yang rutin, transparan, dan mudah diakses,” katanya. (Nayla).

