Notification

×

Iklan

Iklan

Kemdiktisaintek Minta Inovasi ITS Segera Diproduksi Massal

Jumat, 08 Mei 2026 | Mei 08, 2026 WIB Last Updated 2026-05-08T06:26:14Z
Kilas Java, Surabaya – Di tengah meningkatnya tantangan ketahanan energi nasional dan kebutuhan percepatan transformasi industri berbasis teknologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terus menunjukkan keseriusannya dalam menghadirkan inovasi yang dapat langsung diterapkan di masyarakat. 

Sejumlah produk riset unggulan kampus teknologi tersebut kini mulai diarahkan menuju tahap hilirisasi industri agar mampu memberi dampak nyata bagi kebutuhan energi nasional.

Langkah itu mendapat perhatian langsung dari Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Mohammad Fauzan Adziman, saat melakukan kunjungan ke ITS Science Techno Park (STP), Kamis (7/5/2026). 

Dalam agenda tersebut, Fauzan meninjau berbagai inovasi strategis yang dikembangkan para peneliti ITS, terutama teknologi kompor plasma dan kendaraan listrik.

Menurut Fauzan, hasil riset perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai prototipe laboratorium semata. Inovasi harus mampu masuk ke ekosistem industri dan menjawab kebutuhan riil masyarakat, terutama pada sektor energi yang selama ini masih menghadapi tantangan ketergantungan subsidi.

Salah satu inovasi yang dinilai memiliki potensi besar ialah kompor plasma karya peneliti ITS. Teknologi tersebut menawarkan pendekatan berbeda dibanding kompor induksi pada umumnya. 

Jika kompor induksi memanfaatkan medan elektromagnetik untuk memanaskan wadah masak, kompor plasma ITS menggunakan teknologi filamen yang mampu menghasilkan panas menyerupai api konvensional.

Karakteristik tersebut dianggap lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam aktivitas memasak sehari-hari. Selain itu, teknologi tersebut dipandang memiliki peluang besar sebagai alternatif penggunaan elpiji rumah tangga di masa mendatang.

“Dampaknya, subsidi energi dapat dialihkan untuk sektor pembangunan lainnya yang lebih produktif,” ujar Fauzan saat meninjau fasilitas riset ITS.

Pria kelahiran Bandung itu juga menegaskan bahwa keberhasilan inovasi teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, tetapi juga kesiapan aspek pendukung lainnya. 

Menurut dia, banyak produk riset gagal berkembang karena tidak didukung model bisnis, kesiapan manufaktur, maupun strategi pemasaran yang matang.

Karena itu, Ditjen Risbang Kemdiktisaintek akan mendorong terbentuknya konsorsium lintas disiplin guna mempercepat proses hilirisasi inovasi perguruan tinggi. Konsorsium tersebut nantinya melibatkan akademisi, pelaku industri, regulator, hingga sektor pembiayaan.

“Penting bagi seorang peneliti untuk tidak berjalan sendiri, sebab modelling financing, pemahaman perilaku konsumen, hingga kesiapan manufaktur skala besar harus turut diperhatikan,” katanya.

Fauzan menambahkan, proses pengembangan inovasi membutuhkan kolaborasi antarkeilmuan, mulai bidang elektronika, teknik fisika, ekonomi, hingga hukum. 

Menurutnya, pendekatan multidisiplin menjadi kunci agar inovasi dapat diproduksi secara massal sekaligus memiliki landasan regulasi yang kuat.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS, Agus Muhamad Hatta, menegaskan bahwa ITS terus memperkuat sinergi antara kampus, pemerintah, dan sektor industri dalam membangun ekosistem inovasi nasional.

Menurut Hatta, dukungan pemerintah dan lembaga investasi akan menjadi penghubung penting antara hasil riset kampus dengan kebutuhan industri komersial. 

Selama ini, banyak inovasi perguruan tinggi memiliki kualitas teknologi tinggi, tetapi membutuhkan dukungan percepatan pada tahap produksi dan standardisasi.

“Kehadiran pihak kementerian dan lembaga investasi seperti Danantara diyakini mampu menjembatani celah antara prototipe riset dan produk komersial,” ujarnya.

Guru Besar Teknik Fisika ITS tersebut juga menjelaskan bahwa ITS memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan kendaraan listrik nasional. 

Kampus itu telah menghasilkan berbagai inovasi kendaraan listrik, mulai dari sepeda motor listrik, mobil listrik, hingga bus listrik yang dikembangkan untuk mendukung transisi energi nasional.

Ke depan, ITS akan lebih fokus memperkuat ekosistem kendaraan listrik melalui pengembangan teknologi baru serta program konversi kendaraan berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik.

Tidak hanya itu, ITS juga terus memperkuat fasilitas laboratorium pengujian dan sertifikasi yang telah dipercaya pemerintah sebagai bagian dari pengembangan standardisasi industri nasional. 

Dukungan fasilitas tersebut diharapkan mampu mempercepat kesiapan produk inovasi ITS agar dapat segera diserap pasar industri.

Melalui penguatan ekosistem ITS Science Techno Park, pengembangan teknologi semikonduktor, serta percepatan hilirisasi hasil riset, ITS kini semakin menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan teknologi masa depan yang diarahkan untuk mendukung kemandirian energi, transformasi industri, dan daya saing nasional. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update