KILAS JAVA, SURABAYA - Isu perundungan di lingkungan sekolah kembali menjadi perhatian kalangan mahasiswa. Divisi Pengabdian Masyarakat Ikatan Mahasiswa Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Terbuka (IM FHISIP) Surabaya mulai menyusun langkah konkret melalui rapat koordinasi yang digelar Minggu (3/5/2026).
Rapat yang berlangsung di salah satu kafe di Surabaya itu menjadi titik awal konsolidasi program kerja, dengan fokus utama pada persiapan seminar pendidikan bertema bullying di sekolah. Seluruh pengurus dan anggota divisi terlibat dalam pembahasan yang berjalan intens.
Dalam forum tersebut, peserta mengurai konsep kegiatan secara detail. Mulai dari penentuan sasaran sekolah, desain materi, hingga strategi pelaksanaan agar program tidak sekadar seremonial, tetapi memberi dampak langsung bagi siswa.
Koordinator Divisi Pengabdian Masyarakat menegaskan bahwa bullying masih menjadi persoalan laten di dunia pendidikan. Fenomena ini tidak hanya muncul dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal dan digital yang semakin sulit terdeteksi.
Di kota besar seperti Surabaya, dinamika pergaulan remaja cenderung lebih kompleks. Paparan media sosial, arus informasi tanpa filter, serta tekanan lingkungan membuat potensi konflik antarsiswa semakin tinggi.
Dalam konteks ini, edukasi menjadi instrumen penting untuk membangun kesadaran sejak dini.
Seminar yang dirancang IM FHISIP tidak hanya berisi pemaparan teoritis. Pendekatan interaktif akan diutamakan, termasuk studi kasus dan ruang diskusi agar siswa mampu mengenali, memahami, sekaligus merespons praktik perundungan secara tepat.
Ketua IM FHISIP, HR. Mawardi, menyoroti dampak serius bullying terhadap kondisi psikologis siswa. Menurutnya, kasus perundungan kerap berujung pada tekanan mental yang tidak terlihat secara kasat mata.
"Jika perlu kita melakukan pendampingan kepada korban bullying. Dampak psikis itu pasti ada. Ini menjadi bagian dari tanggung jawab kita untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya interaksi yang sehat di lingkungan sekolah," ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan mahasiswa dalam isu sosial semacam ini merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus proses pembelajaran sosial.
"Paling tidak, apa yang kita lakukan bisa menjadi efek domino yang mendorong lebih banyak pihak untuk bergerak dalam kegiatan positif," jelasnya.
Sementara itu, Koordinator Divisi Pengabdian Masyarakat, Balqis, menyebut inisiatif ini berangkat dari keprihatinan terhadap kasus-kasus bullying yang masih terus terjadi. Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pihak sekolah.
Menurutnya, perubahan pola interaksi di era digital turut memengaruhi perilaku remaja. Informasi yang tidak tersaring dengan baik kerap membentuk pola pikir instan dan emosional.
Kondisi itu, lanjutnya, membuka ruang terjadinya perundungan yang berpotensi mengarah pada tindakan yang lebih serius jika tidak ditangani sejak dini. Karena itu, edukasi yang berkelanjutan dan pendampingan dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
Selain menyusun konsep materi, rapat juga menyoroti pentingnya kolaborasi. IM FHISIP berencana melibatkan pihak sekolah, tenaga pendidik, hingga pemangku kepentingan lain agar program berjalan efektif dan berkelanjutan.
Dalam perspektif yang lebih luas, edukasi bullying di kota-kota besar memiliki urgensi tinggi. Kepadatan populasi, heterogenitas latar belakang siswa, serta kompetisi sosial yang ketat sering kali memperbesar risiko konflik interpersonal.
Tanpa intervensi edukatif, sekolah berpotensi menjadi ruang yang tidak aman bagi sebagian siswa.
Pendekatan preventif melalui seminar dan diskusi dinilai mampu membangun empati, meningkatkan literasi emosional, serta memperkuat budaya saling menghargai di kalangan pelajar.
Melalui program ini, IM FHISIP Surabaya menargetkan terciptanya ruang pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan responsif terhadap persoalan sosial yang dihadapi generasi muda. Seminar dijadwalkan mulai digelar dalam waktu dekat di sejumlah sekolah di Surabaya. (Nayla).

