Kilas Java, Surabaya — Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Surabaya diawali dengan konsolidasi massa yang menekankan disiplin dan soliditas. Pimpinan Cabang Serikat Aneka Pekerja Industri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPAI FSPMI) Surabaya memberi arahan tegas kepada peserta aksi sejak titik kumpul.
Pangkorda Surabaya Slamet Raharjo menyampaikan instruksi langsung kepada massa yang mulai berkumpul di kawasan SPBU HR Muhammad, Jumat pagi. Sejak pukul 09.30 WIB, peserta dari berbagai elemen buruh mulai memadati lokasi sebelum bergerak menuju agenda berikutnya.
Dalam arahannya, Slamet menegaskan bahwa seluruh peserta harus berada dalam satu komando yang terpusat dari mobil komando. Skema ini dinilai krusial untuk menjaga ritme aksi tetap terarah sekaligus memastikan pesan yang disampaikan tidak terfragmentasi.
Ia juga menyoroti pentingnya kerapian barisan, khususnya bagi Garda Metal Surabaya yang menjadi garda terdepan dalam pengamanan internal. Barisan yang tertata dinilai bukan sekadar simbol kekuatan, tetapi juga mencerminkan kedewasaan gerakan buruh dalam menyampaikan aspirasi.
Setelah berkumpul, massa dijadwalkan melaksanakan Salat Jumat di frontage Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan Masjid Baitul Haq Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Titik tersebut sekaligus menjadi simpul pertemuan bagi peserta dari berbagai daerah, mulai Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Jember hingga Banyuwangi.
Dari lokasi itu, massa akan melanjutkan pergerakan menuju kawasan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pusat aksi. Mobilisasi dilakukan secara bertahap dengan pengawalan ketat untuk menghindari potensi gangguan di lapangan.
Slamet secara khusus mengingatkan peserta agar tidak terprovokasi. Ia menyebut momentum May Day kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memicu gesekan yang dapat mencederai tujuan aksi.
Karena itu, seluruh peserta diminta menjaga sikap, fokus pada tuntutan, serta menghindari tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Ia juga menekankan bahwa aksi buruh harus tetap membawa pesan moral dan perjuangan yang bermartabat.
Peran pengawalan internal diserahkan kepada Garda Metal Surabaya, terutama dalam proses perpindahan massa dari armada bus menuju titik aksi. Koordinasi lapangan diperketat untuk memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai rencana. (Nayla).

