KILAS JAVA, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali menegaskan kiprahnya dalam mencetak lulusan berdaya saing global. Salah satu wisudawannya, Maulidiya, berhasil menembus dunia kerja internasional dengan berkarier di Rumah Sakit Dr Sulaiman Al Habib, Sahafa, Riyadh, Arab Saudi.
Momen wisuda yang diikuti Maulidiya kali ini memiliki cerita tersendiri. Ia sejatinya dijadwalkan mengikuti wisuda pada September 2025. Namun, karena telah lebih dahulu bekerja di Arab Saudi, ia menunda keikutsertaannya.
Kesempatan baru datang saat ia mengambil cuti kerja, sehingga akhirnya dapat mengikuti prosesi wisuda bersama rekan-rekannya.
Perempuan kelahiran Pamekasan, 15 September 2001 tersebut merupakan anak tunggal dari pasangan Nasihah dan Sayuti.
Ketertarikannya pada dunia kebidanan tumbuh dari lingkungan keluarga serta dorongan kuat untuk berkontribusi dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak.
“Orang tua dan keluarga menjadi motivasi utama saya. Saya ingin bisa berkontribusi di bidang kesehatan, khususnya untuk ibu dan anak,” ujarnya.
Perjalanan karier Maulidiya terbilang singkat namun intensif. Ia melalui tahapan seleksi yang mencakup administrasi hingga wawancara langsung dengan pihak rumah sakit di Arab Saudi.
Setelah dinyatakan lolos, ia segera melengkapi berbagai dokumen yang dibutuhkan hingga akhirnya diberangkatkan.
“Dari proses wawancara sampai bekerja hanya sekitar dua bulan. Sambil menunggu, saya juga meningkatkan kemampuan bahasa secara mandiri,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut menjadi pengalaman emosional yang membekas. Sebagai pekerjaan pertamanya, kesempatan langsung bekerja di luar negeri menjadi capaian yang tidak mudah diraih.
“Saya sangat bersyukur, senang, dan terharu karena ini merupakan karier pertama saya dan langsung bekerja di luar negeri. Semua usaha dan doa akhirnya terbayarkan,” tuturnya.
Selama bekerja, ia dihadapkan pada berbagai tantangan profesional. Mulai dari perbedaan standar operasional, penggunaan teknologi medis yang lebih maju, hingga budaya kerja yang menuntut kedisiplinan tinggi.
“Ada perbedaan dalam standar operasional, teknologi yang lebih maju, serta kedisiplinan kerja yang tinggi. Namun ini menjadi pengalaman berharga untuk terus belajar dan beradaptasi,” jelasnya.
Di sisi lain, tantangan emosional juga sempat dirasakan. Sebagai anak tunggal, ia harus beradaptasi dengan jarak yang memisahkannya dari keluarga.
“Pernah merasa lelah dan rindu keluarga, tetapi saya mengatasinya dengan tetap berkomunikasi dan mengingat tujuan awal,” katanya.
Lingkungan kerja multinasional turut memperkaya pengalamannya, terutama dalam aspek komunikasi lintas budaya. Ia berinteraksi dengan pasien dari berbagai negara dengan latar belakang yang beragam.
“Saya bertemu pasien dari berbagai negara, sehingga belajar banyak tentang komunikasi lintas budaya,” ujarnya.
Saat ini, Maulidiya telah menuntaskan kontrak kerja pertamanya pada periode 2023–2025 dan melanjutkan kontrak kedua untuk dua tahun berikutnya.
Capaian tersebut menjadi bagian dari tren yang lebih luas di lingkungan Unusa. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah lulusan yang berkiprah di luar negeri terus meningkat. Alumni tersebar di berbagai negara, antara lain Arab Saudi, Jepang, hingga Taiwan.
Tidak hanya berasal dari bidang kesehatan, lulusan yang berkarier di tingkat global juga datang dari berbagai program studi lain.
Hal ini menunjukkan kapasitas institusi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif dan kompetitif di pasar internasional.
Upaya penguatan juga terus dilakukan melalui peningkatan kompetensi, pelatihan bahasa, serta pengembangan kesiapan kerja global.
Bahkan, program studi keperawatan di Unusa kini telah membuka kelas internasional sebagai bagian dari strategi tersebut.
Kontribusi ini selaras dengan agenda pembangunan global, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek kesehatan, pendidikan berkualitas, serta penciptaan pekerjaan layak.
Sebaran alumni di berbagai negara turut memperkuat posisi Unusa dalam pemeringkatan global, termasuk dalam indikator kontribusi terhadap kesehatan masyarakat, kualitas pendidikan, dan daya serap lulusan.
Di tengah capaian tersebut, Maulidiya membagikan pesan bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan yang ingin menapaki jalur serupa.
Ia menekankan pentingnya kesiapan sejak dini, baik dari aspek akademik, keterampilan, maupun penguasaan bahasa.
“Jangan ragu untuk memulai. Persiapkan diri dengan baik. Kesempatan bekerja di luar negeri terbuka lebar bagi yang mau berusaha,” pesannya.
Ia juga menilai pengalaman bekerja di luar negeri memberikan perspektif yang lebih luas dalam dunia profesional, sekaligus memperkaya kapasitas diri dalam menghadapi dinamika global. (Nayla).

