Notification

×

Iklan

Iklan

Hantavirus Merebak di Kapal Pesiar MV Hondius, Dokter ITS Ingatkan Risiko Penularan dari Tikus

Senin, 11 Mei 2026 | Mei 11, 2026 WIB Last Updated 2026-05-11T15:17:11Z
KILAS JAVA, SURABAYA – Kemunculan kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius memicu perhatian dunia internasional. Kapal yang berlayar dari Argentina tersebut dilaporkan mengalami insiden kesehatan serius setelah sejumlah penumpangnya terserang gangguan pernapasan akut. 

Hingga 4 Mei 2026 waktu setempat, tercatat tujuh penumpang mengalami gejala dengan tingkat keparahan berbeda, mulai ringan, kritis, hingga meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut.

Peristiwa itu kembali membuka kewaspadaan terhadap ancaman penyakit zoonosis yang berasal dari hewan pengerat. 

Di Indonesia sendiri, hantavirus bukan kasus baru. Sejak 2024, tercatat sebanyak 23 kasus hantavirus pada manusia telah teridentifikasi. Kondisi itu menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit yang bersumber dari lingkungan dan sanitasi masih perlu mendapat perhatian serius, terutama di kawasan padat penduduk.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dr Zulistian Nurul Hidayati SpPD menjelaskan, hantavirus memiliki pola penularan yang berbeda dibanding virus pernapasan lainnya.

Menurut dia, manusia dapat tertular melalui udara yang terkontaminasi partikel kotoran tikus maupun melalui kontak langsung dengan hewan pengerat. Risiko penularan meningkat ketika lingkungan sekitar tidak terjaga kebersihannya.

“Manusia dapat terinfeksi melalui udara dengan terhirupnya partikel pada kotoran tikus dan juga kontak langsung dengan hewan pengerat,” ujarnya.

Zulistian menuturkan, gejala awal hantavirus kerap sulit dikenali karena menyerupai penyakit flu biasa. Penderita umumnya mengalami demam, batuk, nyeri otot, hingga kondisi tubuh yang melemah. Situasi tersebut membuat banyak kasus berpotensi terlambat terdeteksi.

Karena itu, diagnosis tidak cukup hanya berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan seseorang benar-benar terpapar hantavirus.

“Oleh karena itu, tidak bisa hanya diagnosis dari gejala klinis, perlu adanya pemeriksaan diagnostik penunjang dengan pemeriksaan di lab,” terangnya.

Meski gejalanya tampak umum pada fase awal, kondisi penderita dapat memburuk dalam waktu cepat. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah munculnya gangguan pernapasan akut hingga kegagalan respirasi.

Hantavirus diketahui memiliki dua komplikasi serius. Pertama, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan dapat menyebabkan gagal napas akut. Kedua, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memicu demam berdarah disertai gangguan ginjal akut.

Dari berbagai penelitian, diketahui terdapat lebih dari 40 varian hantavirus dan sekitar 20 di antaranya bersifat patogenik atau mampu menular pada manusia. Lingkungan dengan sanitasi buruk serta populasi tikus yang tinggi menjadi faktor yang memperbesar risiko penyebaran virus tersebut.

Menurut Zulistian, hantavirus berbeda dengan COVID-19 yang memiliki tingkat penularan antarmanusia sangat tinggi. Hingga kini, penyebaran hantavirus lebih banyak terjadi melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi.

Karena itu, langkah preventif menjadi kunci utama perlindungan masyarakat. Upaya menjaga kebersihan rumah, mengendalikan populasi tikus, hingga meningkatkan sanitasi lingkungan dinilai efektif menekan risiko penularan.

“Beberapa langkah perlindungan dapat dengan menggunakan masker dan sarung tangan agar terhindar dari kontak langsung dengan kotoran tikus,” pungkasnya. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update