Notification

×

Iklan

Iklan

Kemnaker Gandeng Wadhwani Foundation dan Indosat, Perkuat Ekosistem Ketenagakerjaan Berbasis AI

Selasa, 05 Mei 2026 | Mei 05, 2026 WIB Last Updated 2026-05-05T14:12:21Z
Kilas Java, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat langkah strategis dalam menghadapi disrupsi dunia kerja dengan menjalin kolaborasi lintas sektor bersama Wadhwani Foundation dan PT Indosat Tbk. Nota Kesepahaman Bersama ini ditandatangani pada Selasa (5/5/2026) di Jakarta sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, inklusif, dan berbasis teknologi.

Kerja sama tersebut difokuskan pada peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM), pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI), serta perluasan akses terhadap kesempatan kerja. Tak hanya itu, kolaborasi ini juga menekankan penguatan layanan ketenagakerjaan yang inklusif, termasuk bagi tenaga kerja penyandang disabilitas.

Salah satu inisiatif utama dalam kemitraan ini adalah pengembangan Talent and Innovation Hub (TIH), sebuah ekosistem pengembangan SDM yang dirancang melampaui model pelatihan konvensional. TIH tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi dan kewirausahaan yang selaras dengan kebutuhan industri.

Melalui pendekatan tersebut, program ini diarahkan untuk mencetak talenta yang tidak semata menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja. Penguatan keterampilan digital, penguasaan AI, kewirausahaan, serta pembelajaran berbasis proyek menjadi fondasi utama, termasuk bagi kelompok disabilitas agar memiliki daya saing setara di pasar kerja.

Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan respons konkret terhadap dinamika transformasi dunia kerja yang berlangsung sangat cepat. Ia menilai, perkembangan teknologi dan digitalisasi telah memicu kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri.

“Transformasi dunia kerja terjadi secara masif. Disrupsi teknologi dan perubahan kebutuhan industri menuntut kesiapan SDM yang lebih adaptif dan relevan,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia saat ini berada dalam momentum bonus demografi yang strategis. Namun tanpa intervensi kebijakan dan kolaborasi yang tepat, potensi tersebut berisiko menjadi beban struktural dalam jangka panjang.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. “Kesepahaman ini adalah langkah konkret untuk memperkuat ekosistem ketenagakerjaan nasional melalui pendekatan yang adaptif, terintegrasi, dan berbasis teknologi,” katanya.

Selain penguatan kapasitas SDM, kerja sama ini juga mencakup integrasi platform layanan ketenagakerjaan, seperti SIAPKerja dan JobReady. 

Integrasi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan secara lebih inklusif dan efisien, sekaligus mempermudah akses masyarakat terhadap pelatihan, sertifikasi, hingga peluang kerja.

Lebih jauh, kolaborasi ini diposisikan sebagai investasi jangka panjang dalam membangun tenaga kerja Indonesia yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga tangguh menghadapi perubahan serta mampu menciptakan peluang ekonomi baru.

Dengan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga global, Kemnaker optimistis upaya ini dapat melahirkan talenta masa depan yang kompeten, memperluas kesempatan kerja yang inklusif, serta meningkatkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja nasional di tengah lanskap ekonomi digital yang terus berkembang. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update