Notification

×

Iklan

Iklan

Bugenvil City Ngantang, Dulu Ngantang Park Kini Disulap Jadi Destinasi Rasa Alam

Jumat, 01 Mei 2026 | Mei 01, 2026 WIB Last Updated 2026-05-01T04:18:00Z
KILAS JAVA, BATU – Tidak semua orang mencari keramaian saat berwisata. Ada yang justru ingin menjauh. Dari bising. Dari macet. Dari rutinitas yang menumpuk di kepala. Tempat seperti itu ternyata ada di Ngantang, Kabupaten Malang. Namanya Bugenvil City.

Letaknya tidak di pusat kota. Sekitar 35 kilometer dari Malang. Atau 18 kilometer dari Batu. Jalannya bukan yang penuh baliho wisata. Tapi justru di situlah letak daya tariknya. Tidak banyak yang tahu. Tapi yang sudah datang, biasanya ingin kembali.

Bugenvil City bukan tempat yang benar-benar baru. Ia adalah wajah lain dari Ngantang Park. Diluncurkan ulang pada pertengahan 2025. Bupati Malang Sanusi yang meresmikan. Konsepnya diubah. Arah pengelolaannya juga digeser. Lebih dekat ke alam. Lebih tenang. Lebih “tidak dibuat-buat”.

Begitu masuk kawasan, yang terasa pertama adalah udara. Dingin, tapi tidak menusuk. Lalu mata disuguhi hamparan hijau. Tidak dipoles berlebihan. Justru terlihat apa adanya. Itu yang membuatnya terasa jujur.

Fasilitasnya cukup. Ada cottage. Ada tempat makan. Ada ruang pertemuan. Ada kolam renang. Bahkan masih ada wahana lama seperti go kart. Tidak dihilangkan. Karena pengunjung lama masih mencarinya.

Namun yang paling mencolok adalah bunga bugenvil. Jumlahnya ribuan. Sekitar tujuh ribu tanaman. Menyebar hampir di seluruh area. Tidak hanya jadi hiasan. Tapi juga identitas.

Manajer Operasional Bugenvil City, Hilda Arista Sari, tidak banyak bicara soal kemewahan. Ia justru menekankan kesederhanaan yang dirawat. Penginapan dibuat nyaman tanpa harus terasa mewah. Alam tetap dijaga sebagai pusat pengalaman.

Salah satu yang menarik adalah kolam air panasnya. Tidak memakai mesin modern. Airnya dipanaskan dengan kayu bakar. Cara lama. Tapi justru itu yang dicari sekarang. Sensasi alaminya masih terasa.

Di sudut lain, ada kebun durian. Tidak kecil. Sekitar 73 pohon. Varietasnya beragam. Dari lokal sampai musang king dan montong. Tapi yang membuat orang terkejut bukan jenisnya. Melainkan cara menikmatinya.

Durian di sini tidak dijual. Saat panen, pengunjung bisa menikmatinya tanpa bayar. Tidak banyak tempat wisata berani melakukan itu.

Soal makanan, ada satu menu yang sering disebut-sebut. Bebek peking. Banyak yang datang hanya untuk itu. Bukan sekadar pelengkap wisata. Tapi sudah jadi alasan utama.

Bugenvil City juga tidak hanya untuk liburan keluarga. Tempat ini sering dipakai rapat. Kapasitasnya bisa ratusan orang. Fasilitasnya cukup lengkap. Tidak kalah dengan hotel di kota.

Namun ada satu catatan penting. Bukan dari pengunjung. Tapi dari pemerintah. Kepala UPT Pengelola Prasarana Perhubungan Dishub Jatim, Binsar Siregar, melihat potensi tempat ini besar. Tapi ada hal yang tidak boleh diabaikan.

Lokasinya berada di jalur utama. Lalu lintasnya ramai. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa menimbulkan masalah. Bukan hanya macet. Tapi juga mengganggu kenyamanan orang yang datang.

Menurut Binsar, wisata bukan hanya soal tempatnya. Tapi juga perjalanan menuju ke sana. Dan perjalanan pulangnya.

Di situlah ujian berikutnya bagi Bugenvil City. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update