Notification

×

Iklan

Iklan

Mahasiswa ITS Ciptakan Pawukon Jewelry, Perhiasan Modern Berbasis Wuku Jawa

Kamis, 30 April 2026 | April 30, 2026 WIB Last Updated 2026-04-30T11:41:20Z
Kilas Java, Surabaya – Kreativitas mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menemukan bentuknya dalam karya berbasis riset dan eksplorasi material. Melalui Pawukon Jewelry Collection, seorang mahasiswa Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS menghadirkan perhiasan yang tidak sekadar estetis, tetapi juga memuat narasi budaya yang kuat.

Adalah Bhirawa Kusuma Wijaya, mahasiswa asal Ponorogo, yang mengembangkan koleksi perhiasan berupa kalung dan anting dengan pendekatan material-driven design. Proyek ini berangkat dari tugas akademik yang menuntut eksplorasi mendalam terhadap karakter material. Ia kemudian memilih teknik oksidasi tembaga untuk menghasilkan efek visual patina biru yang unik.

Nama Pawukon diambil dari sistem penanggalan Jawa dan Bali kuno yang dikenal melalui siklus wuku. Konsep ini menjadi pijakan utama dalam merancang identitas produk. 

Jika selama ini industri perhiasan modern lebih banyak mengadopsi zodiak Barat, Bhirawa justru melihat celah untuk mengangkat sistem astrologi lokal sebagai sumber inspirasi desain.

Pilihan tersebut tidak lepas dari upaya menghadirkan diferensiasi sekaligus memperkuat identitas budaya. Ia menilai, wuku sebagai bagian dari pengetahuan tradisional memiliki potensi besar untuk diolah dalam konteks industri kreatif kontemporer.

Dalam koleksi ini, Bhirawa mengangkat Wuku Watugunung sebagai inspirasi utama. Pemilihan itu bersifat personal sekaligus konseptual, karena wuku tersebut merepresentasikan karakter dirinya. 

Pendekatan storytelling menjadi fondasi desain, di mana setiap elemen perhiasan dirancang untuk merefleksikan perjalanan hidup dan sifat individu.

Tiga elemen utama dihadirkan dalam desain Watugunung. Pertama, Lakuning Rembulan yang merepresentasikan karakter dinamis dan membawa kebahagiaan. 

Kedua, bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan pertumbuhan dan proses kehidupan. Ketiga, Sang Hyang Antaboga yang diwujudkan dalam figur naga sebagai simbol semangat inovasi dan kekuatan kreatif.

Representasi visual ketiga elemen tersebut dikemas melalui eksplorasi material yang detail. Sosok Antaboga diwujudkan dalam bentuk kepala naga bermahkota menggunakan emas 18 karat dengan teknik high polished, menghadirkan kesan kontras terhadap material utama tembaga. 

Sementara itu, bunga Wijaya Kusuma direpresentasikan melalui mutiara air tawar yang memberikan keseimbangan antara tekstur kasar dan kilau alami.

Pada elemen Lakuning Rembulan, Bhirawa menggunakan konsep dancing stone dengan batu moissanite. 

Batu tersebut dirancang untuk terus bergerak mengikuti aktivitas pengguna, menciptakan efek kinetik yang memperkuat makna simbolik sebagai representasi energi dan dinamika kehidupan.

Salah satu kekuatan utama koleksi ini terletak pada teknik pewarnaan material. Bhirawa menerapkan metode ammonia fuming untuk menghasilkan blue patina copper. 

Proses oksidasi terkontrol dilakukan selama 24 jam untuk memunculkan warna biru khas pada permukaan tembaga, kemudian dilanjutkan dengan tahap pengeringan dan finishing agar tetap aman digunakan.

Pendekatan ini sekaligus membalik persepsi umum terhadap patina. Jika dalam konteks industri patina kerap dianggap sebagai bentuk degradasi material, dalam karya ini justru diolah menjadi nilai estetika utama yang memperkuat karakter visual produk.

Dalam proses pengembangan, sejumlah tantangan muncul, terutama terkait stabilitas warna, keamanan material terhadap kulit, serta presisi detail desain. 

Seluruh tahapan, mulai dari riset material hingga produksi, dilakukan secara bertahap selama satu semester dengan pendekatan handmade.

Dukungan institusi turut menjadi faktor penting dalam realisasi karya tersebut. Departemen Desain Produk Industri ITS menyediakan fasilitas laboratorium, ruang kerja, hingga akses pameran yang memungkinkan mahasiswa mempresentasikan hasil karyanya kepada publik.

Pengembangan Pawukon Jewelry juga menunjukkan arah baru dalam industri kreatif berbasis budaya lokal. Integrasi antara eksplorasi material, teknologi desain, dan narasi tradisional membuka peluang bagi produk lokal untuk bersaing di pasar yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan kembali sistem pengetahuan Jawa yang mulai terpinggirkan di tengah arus globalisasi. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update