Kilas Java, Surabaya – Panggung wisuda biasanya menjadi ruang selebrasi. Namun di Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sabtu (18/4/2026), suasana berubah hening ketika nama Abdul Rohid dipanggil. Ia tak hadir. Ijazahnya diserahkan kepada orang tuanya, menandai kisah pengabdian yang berakhir sebelum sempat dirayakan.
Momen itu menjadi sorotan ketika Menteri Transmigrasi RI Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara turun langsung menyerahkan ijazah kepada keluarga almarhum.
Didampingi Rektor ITS Bambang Pramujati, prosesi berlangsung khidmat di Grha Sepuluh Nopember. Tangis pecah saat Abdul Ghofur dan Jumaika menerima ijazah putra mereka.
Abdul Rohid merupakan wisudawan program sarjana terapan (D4) Teknologi Rekayasa Instrumentasi yang dikenal berprestasi. Ia lulus dengan IPK 3,58 dan predikat cumlaude. Namun capaian akademik itu bukan satu-satunya alasan ia dikenang.
Ia memilih menunda wisuda demi menjalankan tugas bersama Tim Ekspedisi Patriot di kawasan transmigrasi Bahari Tomini Raya, Sulawesi Tengah. Di sana, ia terlibat dalam pemetaan potensi ekonomi sebagai bagian dari program pembangunan nasional.
Pilihan itu menjadi titik balik. Di tengah tugas pengabdian, kondisi kesehatannya menurun hingga akhirnya berpulang. Ia belum sempat kembali ke kampus untuk merayakan kelulusan yang telah diraihnya sejak September 2025.
Dalam sambutannya, Menteri Transmigrasi menegaskan bahwa kehadiran negara dalam prosesi tersebut bukan sekadar simbolis. Ia menyebut Abdul Rohid sebagai sosok muda yang menempatkan pengabdian di atas kepentingan pribadi.
“Ini bukan hanya tentang ijazah. Ini tentang penghormatan kepada anak bangsa yang telah memberikan tenaga dan pikirannya untuk negara,” ujarnya.
Rektor ITS juga menyampaikan bahwa almarhum telah menunjukkan makna sejati pendidikan. Tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi menjelma menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.
Di balik duka, dukungan terhadap keluarga terus mengalir. Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi memberikan beasiswa penuh kepada adik almarhum, Aprilia Nur Intan Saputri. Sementara ITS memastikan pendampingan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot ITS, Aulia Siti Aisjah, menilai langkah ini sebagai bentuk keberlanjutan nilai yang diwariskan Abdul Rohid. Ia ingin memastikan mimpi almarhum tentang pendidikan keluarganya tetap terjaga.
Dalam prosesi wisuda, keluarga juga menyerahkan karya tugas akhir Abdul Rohid berupa prototipe Smart Air Purifier and Humidifier. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa ia tidak hanya hadir sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai problem solver di bidang teknologi terapan.
Nama Abdul Rohid kini tercatat bukan hanya sebagai lulusan ITS, tetapi sebagai simbol pilihan hidup yang jarang diambil generasi muda: mendahulukan pengabdian, bahkan ketika momen pribadi yang paling dinanti harus dikorbankan. (Nayla).

