Notification

×

Iklan

Iklan

MarExa Jadi Senjata, Mahasiswa UNAIR Raih Juara Internasional di Singapura-Malaysia

Sabtu, 18 April 2026 | April 18, 2026 WIB Last Updated 2026-04-18T15:48:27Z
Kilas Java, Surabaya – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga. Nelson Rachel Rafael, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), sukses mengharumkan nama kampus di level internasional.

Ia tampil gemilang dalam ajang International Youth Innovation Summit Batch 21 yang digelar di Singapura dan Malaysia pada 7–10 April 2026. Tak tanggung-tanggung, Nelson memborong tiga penghargaan sekaligus.

Tiga gelar tersebut yakni 1st Best Project Innovation, 1st Best Presentation, serta Most Innovative Delegate. Capaian ini diraih setelah melewati seleksi ketat, mulai dari administrasi, tes wawasan kebangsaan, hingga Focus Group Discussion (FGD) yang diikuti ribuan peserta dari berbagai negara.

Keberhasilan itu tidak datang secara instan. Nelson bersama tim mengusung inovasi berbasis digital bernama MarExa atau Maritime Export Accelerator. 

Platform ini lahir dari kegelisahan atas potensi UMKM pesisir yang belum tergarap maksimal, khususnya di kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya.

Menurut Nelson, banyak pelaku usaha lokal memiliki produk unggulan, namun terkendala akses pasar global serta keterbatasan sistem operasional. MarExa hadir sebagai jembatan yang mengintegrasikan kebutuhan tersebut dalam satu ekosistem.

Platform ini memiliki empat fitur utama. Pertama, MasterClass yang menyediakan edukasi dari para pakar. Kedua, Retail Partner yang memperkuat jaringan pasokan bahan baku. 

Ketiga, Global Revenue yang menghubungkan UMKM dengan ekosistem e-commerce ekspor. Keempat, Revenue Streams yang berfokus pada pengelolaan arus keuangan.

Sebagai mahasiswa akuntansi, Nelson berperan penting dalam pengembangan fitur terakhir. Ia merancang sistem pelaporan keuangan yang transparan, akuntabel, dan dapat dipantau secara real-time.

“Transparansi menjadi kunci. Dengan sistem ini, pelaku usaha dapat mengelola pendapatan dan modal secara lebih terstruktur serta terpercaya,” ujarnya.

Di balik pencapaian tersebut, Nelson juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus memimpin tim lintas usia secara daring, sekaligus beradaptasi dengan penggunaan bahasa Melayu saat sesi penjurian.

Namun, kendala itu berhasil diatasi melalui strategi persiapan yang matang. Latihan rutin secara online, penguatan teknik storytelling, hingga penyusunan jargon pembuka dan penutup menjadi senjata utama dalam memikat perhatian juri.

Selain kompetisi, Nelson juga mendapat kesempatan mengunjungi dua kampus bergengsi di Asia Tenggara, yakni National University of Singapore dan Universiti Malaya. 

Pengalaman tersebut membuka wawasannya terhadap tingginya budaya kompetitif mahasiswa di tingkat global.

Ia melihat langsung bagaimana mahasiswa internasional mempersiapkan diri secara serius untuk bersaing, baik dari sisi akademik maupun inovasi.

“Jangan ragu keluar dari zona nyaman. Kesempatan global itu ada, tapi harus dijemput dengan kesiapan dan keberanian,” ucap Nelson. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update