Kilas Java, Surabaya – Cara berbeda dipilih Institut Teknologi Sepuluh Nopember dalam memaknai Hari Kartini tahun ini. Tidak lagi sebatas seremoni simbolik, kampus teknologi tersebut menggelar ITS Kartini Fashion Day 2026 dengan konsep parade budaya terbuka yang menyedot perhatian publik di kawasan Bundaran ITS, Selasa (21/4/2026).
Sejak pagi, area kampus berubah menjadi panggung ekspresi budaya. Jajaran pimpinan, sivitas akademika, hingga mahasiswa tampil mengenakan busana adat dari berbagai penjuru Nusantara.
Deretan kostum tradisional itu menjadi penanda bahwa semangat Raden Ajeng Kartini masih relevan, bahkan dalam lanskap kampus modern.
Rektor ITS Bambang Pramujati menegaskan, kegiatan ini dirancang untuk menghadirkan peringatan Kartini yang lebih hidup dan kontekstual. Selama ini, peringatan cenderung bersifat pasif, tanpa ruang interaksi yang kuat.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar memakai pakaian adat. Ada unsur edukasi, ekspresi, sekaligus keterlibatan publik,” ujarnya.
Menurutnya, parade dan fashion show di ruang terbuka menjadi strategi untuk membawa nilai budaya keluar dari ruang formal. Dengan demikian, pesan yang disampaikan tidak berhenti di internal kampus, tetapi juga menjangkau masyarakat luas.
Rangkaian kegiatan diawali dengan briefing teknis bagi peserta. Penilaian dilakukan secara komprehensif, mencakup kesesuaian tema, teknik berjalan, ekspresi, hingga kreativitas dalam membawakan busana.
Standar ini mendorong peserta tidak hanya tampil, tetapi juga memahami makna di balik kostum yang dikenakan.
Puncak acara ditandai dengan Parade Kartini yang melintasi rute dari Pos 1 Sekuriti menuju Bundaran ITS.
Sepanjang jalur tersebut, peserta menampilkan kekayaan visual budaya Indonesia. Keberagaman motif, warna, dan aksesoris menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus memperlihatkan luasnya spektrum budaya nasional.
Pemilihan lokasi di ruang terbuka bukan tanpa pertimbangan. Selain faktor visibilitas, konsep ini juga menjadi bentuk komunikasi publik yang lebih efektif.
“Ini bukan hanya perayaan internal. Kami ingin masyarakat ikut merasakan dan diingatkan kembali tentang perjuangan Kartini,” jelas Bambang.
Kegiatan yang digagas Unit Komunikasi Publik ITS ini melibatkan lintas elemen kampus, termasuk Dharma Wanita Persatuan. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperkuat nuansa kolaboratif dalam peringatan kali ini.
Ketua DWP ITS Galih Kanestri Dewi Pramujati menyebut, format kegiatan yang lebih dinamis mampu mendorong keterlibatan aktif perempuan di lingkungan kampus.
“Momentum ini penting untuk menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dan harus terus berkembang,” ujarnya.
Di tengah geliat modernisasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya tetap memiliki ruang penting. Perpaduan antara nilai tradisional dan pendekatan kekinian menghadirkan wajah baru peringatan Kartini di lingkungan akademik. (Nayla).

