Notification

×

Iklan

Iklan

ITS Integrasikan Sains Techno Park, Dorong Riset Jadi Produk Nyata

Senin, 13 April 2026 | April 13, 2026 WIB Last Updated 2026-04-14T00:41:23Z
Kilas Java, Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kian serius mengakselerasi transformasi menuju kampus berbasis kewirausahaan. Salah satu langkah konkretnya ditunjukkan melalui soft launching integrasi New Science Techno Park (STP) ITS 2027 di Gedung Creative Center A ITS, Senin (13/4).

Peluncuran ini bukan sekadar seremoni. ITS sedang menata ulang peran strategis kampus sebagai penghubung antara riset akademik dan kebutuhan industri. Hadirnya Menteri PPN/Kepala Bappenas RI Rachmat Pambudy menjadi penanda bahwa agenda ini sejalan dengan arah kebijakan nasional.

Di level nasional, pengembangan Sains Techno Park masih menghadapi tantangan. Target 100 STP belum sepenuhnya tercapai. Namun ITS justru menempatkan diri di barisan terdepan sebagai salah satu dari lima STP top-tier nasional dalam Konvensi Sains Teknologi Indonesia.

Posisi tersebut diperkuat dengan keunggulan fasilitas. ITS menjadi satu-satunya kampus di Indonesia yang memiliki sirkuit riset otomotif, membuka ruang pengembangan teknologi kendaraan masa depan secara lebih komprehensif.

Rachmat Pambudy menegaskan, integrasi STP ITS harus dilihat sebagai fondasi penting dalam mempercepat hilirisasi riset. Ia menyoroti pentingnya mengubah paradigma perguruan tinggi, dari sekadar penghasil publikasi menjadi pencipta nilai ekonomi.

“Perguruan tinggi harus menjadi sumber lahirnya startup dan inovasi yang berdampak langsung. STP ini adalah investasi jangka panjang,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, pemerintah juga tengah mematangkan pembentukan National Technology Transfer Office (NTTO) untuk memastikan proses komersialisasi riset berjalan optimal dan terukur.

Rektor ITS Bambang Pramujati menyebut, kawasan STP yang dikembangkan seluas 10 hektare dirancang sebagai ekosistem terpadu. Tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia.

“Peran STP adalah menjembatani. Riset tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus menjawab kebutuhan industri,” tegasnya.

Saat ini, STP ITS mengandalkan empat klaster utama, yakni maritim, otomotif, teknologi informasi dan komunikasi serta robotika, serta industri kreatif. Klaster tersebut menjadi motor penggerak inovasi berbasis teknologi terapan.

Berbagai produk telah lahir dari ekosistem ini. Mulai dari robot layanan RAISA, kendaraan listrik, kapal otonom i-Boat, hingga alat kesehatan dan produk kreatif untuk mendukung UMKM.

Penguatan STP ITS juga ditopang program Higher Education for Technology and Innovation (HETI) yang didanai Asian Development Bank. Sejak 2022, dukungan anggaran mencapai Rp 650 miliar dialokasikan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur inovasi.

Ke depan, ITS menyiapkan ekspansi pengembangan melalui pembangunan Rumah Sakit Pendidikan dr Angka Nitisastro dan pusat semikonduktor. Dua proyek ini diarahkan untuk memperkuat integrasi lintas sektor, khususnya teknologi dan kesehatan.

Pengembangan tersebut sekaligus membuka peluang lahirnya inovasi baru berbasis kebutuhan nyata masyarakat dan industri, seiring meningkatnya tuntutan terhadap teknologi tepat guna di berbagai sektor. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update