Notification

×

Iklan

Iklan

FK UNAIR Latih Bantuan Hidup Dasar untuk WNI di Maroko

Selasa, 28 April 2026 | April 28, 2026 WIB Last Updated 2026-04-28T16:38:16Z
KILAS JAVA, SURABAYA – Upaya memperkuat kesiapsiagaan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri terus digencarkan. Kali ini, tim pengabdian masyarakat dari Departemen Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) menggandeng RSUD Dr Soetomo menggelar pelatihan Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar bagi diaspora Indonesia di Maroko.

Kegiatan tersebut berlangsung di KBRI Rabat pada 21 April 2026. Pelatihan ini dirancang untuk membekali WNI dengan keterampilan medis dasar yang krusial dalam situasi darurat, mulai dari henti jantung hingga kecelakaan sehari-hari.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko, Yuyu Sutisna, hadir langsung membuka kegiatan. Ia tidak sekadar memberikan sambutan, tetapi juga terlibat aktif dalam sesi pelatihan bersama peserta lainnya. Dalam pernyataannya, Yuyu menilai program tersebut sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas perlindungan WNI di luar negeri.

Ia menyoroti latar belakang para pemateri yang merupakan dokter spesialis anestesi yang baru mengikuti World Congress of Anaesthesiologists ke-19 di Marrakech pada 15–19 April 2026. Menurutnya, hal itu menjadi nilai tambah karena materi yang disampaikan mengacu pada praktik dan standar internasional terkini.

Ketua tim pelatihan, dr Anna Surgean Veterini, SpAn-TI, SubspTI(K), MARS, menegaskan bahwa kemampuan penyelamatan nyawa tidak boleh eksklusif bagi tenaga medis. Dalam banyak kasus, respons pertama justru datang dari orang di sekitar korban.

Ia menjelaskan bahwa kondisi seperti serangan jantung, tersedak, hingga kecelakaan listrik dapat terjadi tanpa peringatan. Dalam situasi tersebut, kecepatan dan ketepatan tindakan awal sangat menentukan peluang keselamatan korban sebelum mendapatkan penanganan lanjutan.

Pelatihan disusun dengan pendekatan interaktif dan aplikatif. Dua instruktur utama, dr Dyah Saraswati SpAn-TI dan dr Nenden Suliadiana Fajarini SpAn-TI, memandu peserta melalui berbagai materi penting. Di antaranya teknik Bantuan Hidup Dasar dan Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan tersedak, pertolongan pertama pada cedera akibat listrik, hingga penanganan kondisi ekstrem seperti heat stroke dan hipotermia.

Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan Automated External Defibrillator (AED), perangkat kejut jantung otomatis yang kini semakin banyak tersedia di ruang publik. Sesi simulasi menjadi bagian yang paling menyita perhatian. Para peserta diberi kesempatan mempraktikkan langsung teknik penyelamatan dengan pendampingan intensif dari instruktur.

Antusiasme diaspora Indonesia di Maroko terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Interaksi dua arah antara peserta dan instruktur menciptakan suasana pelatihan yang dinamis sekaligus edukatif.

Kegiatan ini menjadi salah satu pelatihan BLS pertama yang secara khusus menyasar komunitas diaspora Indonesia di Maroko. Dukungan penuh dari KBRI Rabat turut memastikan kelancaran seluruh rangkaian acara.

Bagi Fakultas Kedokteran UNAIR, program ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang melampaui batas geografis. 

Tidak hanya memperkuat kapasitas individu, tetapi juga mendorong terbentuknya jejaring komunitas yang tanggap terhadap kondisi darurat di lingkungan masing-masing.

Inisiatif tersebut sekaligus mencerminkan peran aktif tenaga medis Indonesia dalam ranah kesehatan global, terutama dalam aspek promotif dan preventif yang berbasis edukasi masyarakat. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update