Notification

×

Iklan

Iklan

Webinar Internasional FK Unusa Bahas Risiko Spastisitas hingga Kontraktur pada Pasien Stroke

Selasa, 31 Maret 2026 | Maret 31, 2026 WIB Last Updated 2026-03-31T08:43:15Z
Kilas Java, Surabaya – Lonjakan kasus stroke di usia produktif mulai menjadi alarm serius di dunia kesehatan. Tidak lagi identik dengan lansia, stroke kini juga menyerang kelompok usia kerja dan berdampak langsung pada produktivitas serta kualitas hidup masyarakat.

Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) berkolaborasi dengan Universiti Malaya menggelar webinar internasional bertajuk From Spasticity to Contracture: A Practical Neuromuscular Musculoskeletal Approach to Stroke, Jumat (27/3).

Forum akademik lintas negara ini menghadirkan para pakar rehabilitasi medik untuk membedah penanganan stroke secara menyeluruh. Fokus utama tidak hanya pada fase penyelamatan pasien, tetapi juga pencegahan komplikasi lanjutan seperti spastisitas hingga kontraktur yang berisiko menyebabkan disabilitas permanen.

Dekan FK Unusa, Prof. Budi Santoso, menegaskan bahwa pendekatan holistik menjadi kunci dalam penanganan stroke. Ia mengingatkan bahwa komplikasi seperti kekakuan otot hingga keterbatasan gerak permanen sering kali muncul akibat penanganan yang terlambat atau tidak optimal.

“Melalui forum ini, kami ingin memperkuat kolaborasi akademik sekaligus memperkaya wawasan tenaga kesehatan agar mampu menangani stroke secara komprehensif, dari pencegahan hingga rehabilitasi,” ujarnya.

Dari sisi internasional, Associate Professor Anand Samugam menyoroti pentingnya pendekatan multidisiplin dalam rehabilitasi. 

Menurutnya, integrasi antara aspek neuromuskular dan muskuloskeletal harus berjalan beriringan agar pasien tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga kembali memiliki kualitas hidup yang baik.

Paparan teknis disampaikan Chung Tze Yang yang menekankan urgensi intervensi dini. Ia menjelaskan bahwa spastisitas yang dibiarkan tanpa penanganan berpotensi berkembang menjadi kontraktur permanen. 

“Penanganan sejak awal menjadi faktor penentu dalam mencegah komplikasi yang lebih berat,” jelasnya.

Sementara itu, Sakinah Sabirin menegaskan bahwa setiap pasien stroke membutuhkan pendekatan yang berbeda. Strategi rehabilitasi, kata dia, harus disusun secara individual dengan mempertimbangkan kondisi fungsional serta target kualitas hidup pasien.

Dari perspektif dalam negeri, Dr. Rita Vivera Pane menggarisbawahi pentingnya kerja sama lintas profesi. Ia menilai kolaborasi antara dokter, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lain menjadi fondasi utama dalam keberhasilan rehabilitasi pasien stroke.

Webinar ini sekaligus menjadi bagian dari upaya FK Unusa dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan serta memperluas jejaring kolaborasi global di bidang kesehatan. 

Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi pada penguatan peran institusi pendidikan dalam menjawab tantangan kesehatan modern yang semakin kompleks. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update