Notification

×

Iklan

Wamenaker Afriansyah Noor: Pelatihan Vokasi Harus Berdampak Nyata pada Peluang Kerja

Selasa, 03 Maret 2026 | Maret 03, 2026 WIB Last Updated 2026-03-03T11:39:16Z
Kilas Java Kilas Java, Padang – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan pelatihan vokasi tidak boleh berhenti pada aspek seremonial dan administratif. Program pelatihan harus terukur dampaknya, terutama dalam meningkatkan peluang kerja dan daya saing lulusan di pasar tenaga kerja.

Penegasan itu disampaikan saat membuka rangkaian Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK), webinar, dan short course di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Padang, Senin (2/3/2026). 

Menurutnya, pelatihan vokasi merupakan instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sepanjang dilaksanakan dengan standar yang jelas, proses yang berkualitas, dan berorientasi pada hasil.

“Pelatihan tidak boleh sekadar menggugurkan kegiatan. Harus menghasilkan kompetensi yang diakui dan dibutuhkan pasar kerja. Jika tidak meningkatkan peluang kerja, maka pendekatannya harus kita perbaiki bersama,” ujarnya.

Afriansyah menekankan, perencanaan program pelatihan wajib berbasis pada informasi pasar kerja yang akurat dan mutakhir. Tanpa data yang presisi, pelatihan berisiko tidak relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Karena itu, pendekatan link and match menjadi keniscayaan. Kementerian Ketenagakerjaan terus mendorong seluruh balai pelatihan di bawah naungannya untuk aktif membangun kolaborasi strategis dengan sektor industri.

“Kami mendorong seluruh balai pelatihan di lingkungan Kemnaker memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri, termasuk BPVP Padang yang selama ini konsisten membangun kolaborasi strategis,” katanya.

Upaya memperluas akses juga menjadi perhatian. Sepekan sebelumnya, BPVP Padang menyelenggarakan pelatihan bagi penyandang disabilitas dan lanjut usia. 

Langkah tersebut, menurut Afriansyah, mencerminkan komitmen bahwa pelatihan vokasi harus inklusif dan memberi kesempatan setara bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Pelatihan vokasi harus membuka akses seluas-luasnya, termasuk bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Semua harus memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas peluang kerja,” ujarnya.

Untuk memperkuat penempatan kerja, BPVP Padang menjalin kemitraan dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dalam membuka akses pasar kerja luar negeri. Kerja sama juga dilakukan dengan Universitas Negeri Padang dalam pengembangan kebekerjaan berbasis heritage.

Selain itu, sejumlah pelatihan singkat dirancang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan pasar kerja. Model pelatihan fleksibel ini diharapkan mampu menjawab dinamika kebutuhan keterampilan, baik untuk sektor formal maupun kewirausahaan.

Melalui penguatan Pelatihan Berbasis Kompetensi, optimalisasi informasi pasar kerja, serta kemitraan strategis dengan industri, Kementerian Ketenagakerjaan menargetkan pada 2026 meningkatnya jumlah lulusan yang terserap kerja atau berwirausaha, bertambahnya tenaga kerja tersertifikasi, serta terdongkraknya produktivitas tenaga kerja, termasuk di Sumatera Barat. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update