Kilas Java,Surabaya - Peran dokter hewan dalam menjaga ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat belum sepenuhnya tercermin dalam ruang kebijakan publik. Padahal profesi ini berada di garis depan isu kesehatan hewan, keamanan pangan, hingga pengawasan produk hewani. Kesenjangan itulah yang menjadi kegelisahan Dr drh Muhammad Munawaroh MM.
Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya ini menilai penguatan profesi tidak cukup dilakukan secara individual. Menurut dia, organisasi profesi harus berdiri kokoh agar mampu memperjuangkan posisi strategis dokter hewan dalam perumusan regulasi.
Atas dasar itu, ia aktif di Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dan kemudian dipercaya memimpin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PDHI selama dua periode.
Munawaroh menyelesaikan pendidikan dokter hewan pada 1991. Sejak itu ia meniti karier sebagai praktisi sekaligus mengembangkan usaha di bidang kesehatan hewan.
Pengalaman lapangan membuatnya memahami secara langsung bagaimana dokter hewan bersentuhan dengan pengendalian penyakit hewan dan pengawasan keamanan produk hewani. Namun, ia melihat pelibatan profesi ini dalam penyusunan kebijakan masih terbatas.
“Saya merasa dokter hewan belum banyak dilibatkan dalam penyusunan regulasi. Padahal kami bersentuhan langsung dengan isu kesehatan hewan dan keamanan pangan. Karena itu kami ingin memberikan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Dari situ saya berpikir, organisasi profesinya harus diperkuat lebih dulu,” ujarnya.
Keterlibatannya di PDHI berawal dari tingkat cabang. Ia pernah memimpin PDHI Jawa Barat V yang meliputi Bekasi dan Karawang. Pengalaman tersebut menjadi batu loncatan sebelum ia dipercaya menjabat Ketua Umum PB PDHI periode 2018–2022.
Saat memimpin di tingkat nasional, ia menghadapi tantangan internal organisasi yang menuntut pembenahan tata kelola. Menurut Munawaroh, organisasi profesi harus dikelola secara transparan dan profesional agar mendapat legitimasi dari anggotanya.
Ia mendorong sistem keuangan berbasis aplikasi dan digitalisasi administrasi keanggotaan sebagai langkah awal membangun fondasi kelembagaan yang lebih modern.
Pendekatan tersebut sejalan dengan latar belakang akademiknya. Pada 2007 ia menempuh pendidikan Magister Manajemen Keuangan. Perspektif manajerial itu, kata dia, membentuk cara pandangnya dalam mengelola organisasi secara sistematis dan akuntabel.
“Ketika organisasi dikelola dengan sistem yang jelas dan terbuka, anggota akan merasa memiliki. Dari situ kepercayaan tumbuh dan organisasi bisa bergerak lebih kuat. Alhamdulillah, berbagai tantangan dapat kami atasi dengan baik sehingga sekarang kami bisa meyakinkan para anggota bahwa PDHI bisa menjadi organisasi yang lebih baik,” katanya.
Pembenahan tata kelola tersebut berdampak pada meningkatnya soliditas organisasi. Jumlah anggota bertambah dalam beberapa tahun terakhir, yang menurut Munawaroh menjadi indikator tumbuhnya kepercayaan terhadap PDHI.
Dukungan itu pula yang mengantarkannya kembali terpilih sebagai Ketua Umum untuk periode 2022–2026.
Memasuki periode kedua, ia memberi perhatian pada regenerasi dan pelibatan dokter hewan muda. Baginya, organisasi profesi tidak boleh berhenti pada fungsi administratif. PDHI harus menjadi ruang pengembangan kapasitas, advokasi, serta perlindungan bagi anggotanya di tengah dinamika sektor kesehatan hewan dan industri pangan.
Di tengah tanggung jawab memimpin organisasi nasional, Munawaroh menuntaskan pendidikan doktor di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga pada 2021.
Ia meraih predikat lulusan terbaik program doktor. Menurut dia, kepemimpinan dan pengembangan kapasitas intelektual tidak dapat dipisahkan.
“Menuntut ilmu itu tidak harus menunggu menjadi dosen. Kita belajar untuk memperkuat diri dan memberi manfaat lebih luas. Semakin luas wawasan kita, semakin besar pula kontribusi yang bisa diberikan. Karena itu, jangan ragu untuk melanjutkan pendidikan,” ujarnya. (Nay).

