Kilas Java Surabaya – Upaya memperkuat daya saing industri manufaktur nasional menjadi sorotan dalam Roundtable Discussion Revitalisasi Industri yang digelar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Forum yang mempertemukan unsur pemerintah, pelaku industri, dan kalangan akademisi tersebut berlangsung di Auditorium Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS, Kamis (5/3/2026).
Diskusi ini menjadi ruang strategis untuk membedah tantangan serta merumuskan arah baru penguatan sektor industri nasional. Berbagai perspektif disampaikan guna memperkaya pendekatan kebijakan, mulai dari aspek regulasi, teknologi, hingga penguatan ekosistem industri.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian RI, Setia Diarta, menjelaskan bahwa industri nasional saat ini menghadapi sejumlah tantangan struktural. Menurutnya, terdapat sedikitnya lima area krusial yang menjadi hambatan penguatan industri dalam negeri.
Beberapa tantangan tersebut meliputi keterbatasan bahan baku, ketatnya persaingan pasar global, tingginya biaya energi, kompleksitas regulasi, serta kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan inovasi. Ia menilai penguatan industri harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah domestik.
“Kita dapat memperdalam sektor industri dari yang hanya perakitan menjadi menyiapkan komponennya sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Setia memaparkan konsep Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) yang diinisiasi Direktorat Jenderal ILMATE sebagai langkah memperkuat struktur industri nasional. Strategi tersebut dirancang untuk mempercepat transformasi industri menuju kemandirian teknologi dan rantai pasok.
Beberapa agenda utama dalam SBIN antara lain penguatan struktur industri dan hilirisasi, peningkatan kemandirian komponen dan rantai pasok, serta penguasaan teknologi dan inovasi.
Selain itu, strategi tersebut juga menitikberatkan pada pengembangan kompetensi sumber daya manusia industri, peningkatan akses pembiayaan dan investasi, perluasan pasar, serta penguatan kelembagaan dan regulasi yang mendukung industri hijau.
Perspektif dari pelaku industri juga disampaikan oleh Senior Executive Vice President Transformasi Manajemen PT PAL Indonesia, Laksda TNI (Purn) A R Agus Santoso. Ia menuturkan bahwa transformasi industri maritim tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi, tetapi juga pada kekuatan ekosistem industri nasional.
Menurutnya, PT PAL Indonesia terus mendorong penggunaan produk dalam negeri dalam pengadaan material maupun peralatan industri. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat rantai pasok domestik sekaligus meningkatkan kemandirian industri nasional.
Sementara itu, Direktur PT Barata Indonesia, Hertyoso Nursasongko, menekankan pentingnya penguatan ekosistem industri nasional sebagai fondasi industrialisasi berkelanjutan. Ia memaparkan bahwa perusahaan tengah mengembangkan pendekatan manufaktur berbasis teknologi tinggi guna meningkatkan daya saing.
Selain pengembangan teknologi, penguatan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga dinilai menjadi instrumen strategis untuk memperbesar kontribusi industri lokal dalam proyek-proyek nasional. Langkah tersebut dipandang mampu memperkuat struktur manufaktur sekaligus memperluas peluang industri domestik.
Dari perspektif akademik, Ketua Pusat Studi Pengembangan Industri dan Kebijakan Publik (PIKP) ITS, Arman Hakim Nasution, menilai industrialisasi tidak dapat dilepaskan dari inovasi dan penguatan riset berbasis perguruan tinggi.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri menjadi prasyarat penting dalam mendorong transformasi industri nasional.
Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghasilkan inovasi teknologi dan gagasan strategis bagi pengembangan industri. Namun, implementasi dan dukungan pembiayaan tetap membutuhkan keterlibatan kuat dari pemerintah.
“Inovasi dan konsep dapat lahir dari kolaborasi dengan perguruan tinggi, tetapi eksekusi dan pembiayaan oleh pemerintah,” jelas dosen Departemen Manajemen Bisnis ITS tersebut.
Melalui forum diskusi ini, ITS juga menegaskan komitmennya dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin kesembilan tentang industri, inovasi, dan infrastruktur, serta poin ketujuh belas mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan. (Nay).

