Notification

×

Iklan

Menag Nasaruddin Umar Ajak Mahasiswa ITS Membaca Al-Qur’an dan Alam Semesta Saat Nuzulul Qur’an

Sabtu, 07 Maret 2026 | Maret 07, 2026 WIB Last Updated 2026-03-07T13:41:22Z
Kilas Java, Surabaya – Momentum malam Nuzulul Qur’an dimaknai secara mendalam oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Ramadan Festival dalam rangkaian Ramadan di Kampus (RDK) 2026. Kegiatan yang digelar di Masjid Manarul Ilmi ITS, Jumat (6/3) malam tersebut menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar sebagai pembicara utama.

Mengusung tema Menemukan Kembali Energi Kehidupan melalui Cahaya Nuzulul Qur’an, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi civitas akademika untuk memaknai kembali posisi Al-Qur’an dalam kehidupan modern, khususnya dalam dunia ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi.

Dalam tausiyahnya, Nasaruddin menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak semata dimaknai sebagai kitab suci dalam bentuk mushaf. Lebih luas dari itu, ia menegaskan bahwa seluruh fenomena alam semesta juga merupakan manifestasi dari ayat-ayat Tuhan yang dapat dibaca dan dipelajari manusia.

Menurutnya, Al-Qur’an dapat dipahami dalam dua dimensi besar. Pertama adalah Al-Qur’an dalam bentuk mushaf yang menjadi pedoman hidup manusia. Kedua adalah Al-Qur’an dalam bentuk makrokosmos yang tercermin melalui alam semesta, mulai dari pohon, bumi, hingga planet-planet yang beredar di jagat raya.

Ia menekankan bahwa kedua dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. “Kita tidak hanya mengimani mushaf Al-Qur’an, tetapi juga harus membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta,” ujarnya.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu menilai bahwa pemahaman terhadap hubungan antara wahyu dan realitas alam sangat penting, terutama bagi kalangan akademisi dan mahasiswa yang berkecimpung dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Untuk menjelaskan relasi tersebut, Nasaruddin menyinggung peran ilmu ushul fiqih sebagai metode memahami teks agama dalam konteks kehidupan yang terus berkembang. Ia mencontohkan situasi yang terjadi saat pandemi Covid-19, ketika masyarakat dianjurkan menjaga jarak guna mencegah penularan virus.

Di sisi lain, dalam hadis Nabi Muhammad SAW terdapat anjuran untuk merapatkan saf saat melaksanakan salat berjamaah. Menurut Nasaruddin, kondisi tersebut tidak dapat dipahami secara tekstual semata, melainkan membutuhkan pendekatan keilmuan yang mempertimbangkan situasi dan kemaslahatan umat.

Ia menegaskan bahwa di sinilah pentingnya peran ushul fiqih dalam menjembatani pemahaman antara teks agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kondisi sosial masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu melihat Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab bacaan ritual, tetapi juga sebagai sumber inspirasi intelektual dalam memahami dinamika kehidupan dan perkembangan sains.

Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati menyampaikan bahwa momentum Ramadan menjadi ruang pembelajaran spiritual bagi mahasiswa di tengah dinamika kehidupan akademik yang padat. Ia berharap generasi muda mampu mengisi masa studinya dengan kegiatan yang memberikan nilai positif bagi diri sendiri maupun lingkungan.

Menurutnya, penguatan spiritualitas merupakan fondasi penting bagi mahasiswa agar mampu mengembangkan ilmu pengetahuan secara beretika dan bertanggung jawab.

Ketua Pelaksana RDK ITS 2026 Bara Ardiwinata menambahkan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an dalam Ramadan Festival dirancang untuk menghadirkan suasana Ramadan yang lebih hidup di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana memperkuat kedekatan mahasiswa dengan Al-Qur’an.

Selain sebagai ruang penguatan nilai spiritual, kegiatan ini juga sejalan dengan upaya kampus dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals, khususnya pada poin keempat tentang pendidikan berkualitas melalui penguatan karakter dan nilai moral dalam dunia akademik. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update