KILAS JAVA , SURABAYA - Dunia kesehatan bukan sekadar ruang kerja, melainkan ruang pengabdian. Prinsip itu yang sejak awal dipegang Mohammad Iqbal Anas Ma’ruf, alumnus Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR), dalam meniti kariernya.
Sejak 2002, ia memilih bertumbuh di sektor jaminan kesehatan nasional, hingga kini dipercaya mengemban amanah sebagai Deputi Direksi Bidang Komunikasi Organisasi BPJS Kesehatan.
Iqbal memulai pengabdiannya ketika lembaga tersebut masih bernama PT Askes (Persero). Tahun 2002, ia ditempatkan di Kabupaten Sikka, Maumere, sebagai pelaksana.
Penugasan di wilayah timur Indonesia itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya. Dari daerah, ia belajar memahami denyut pelayanan kesehatan di lapangan, sekaligus meneguhkan komitmen untuk bekerja bukan hanya administratif, tetapi solutif.
Kepercayaan demi kepercayaan kemudian datang. Ia menempati sejumlah posisi strategis, baik di cabang, wilayah, maupun kantor pusat. Beragam pengalaman itu, menurutnya, menjadi bekal utuh saat kini memimpin fungsi komunikasi organisasi di level nasional.
“Kepercayaan ini adalah keyakinan bahwa seluruh pengalaman yang saya jalani menjadi fondasi untuk mengelola komunikasi secara lebih strategis,” ujarnya.
Di kursi kedeputian, Iqbal mendorong penguatan komunikasi terintegrasi. Ia menilai pesan internal dan eksternal harus selaras agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Konsistensi narasi menjadi penting, terutama dalam mengelola isu publik yang kerap dinamis.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat peran Duta BPJS Kesehatan sebagai agen komunikasi positif di ruang digital. Selain itu, terdapat program Duta Muda BPJS Kesehatan yang melibatkan pelajar sebagai penyambung informasi terkait Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Generasi muda didorong tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktor edukasi.
Inovasi lain adalah Micro Ambassador, program pemberdayaan pegawai agar mampu menjadi narasumber terpercaya di lingkungannya masing-masing.
Optimalisasi kanal digital juga dilakukan melalui penguatan media sosial serta program siaran seperti BPJS On Air untuk menjangkau publik lebih luas.
Baginya, bekerja di lembaga pelayanan publik berarti siap menghadapi sorotan. Tantangan terbesar adalah menjaga kepercayaan masyarakat.
Ujian itu pernah ia rasakan ketika menjabat Kepala Humas atau Juru Bicara BPJS Kesehatan, saat isu defisit program JKN mencuat dan memicu kritik luas.
Di fase tersebut, komunikasi tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun pemahaman dan merawat kepercayaan. Transparansi dan ketepatan pesan menjadi krusial di tengah derasnya arus opini.
Pengalaman berbeda ia rasakan saat menjadi Deputi Direksi Wilayah. Di sana, tantangan bersifat operasional dan lebih kompleks.
Ia harus memastikan kualitas layanan tetap terjaga di tengah keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis yang beragam, hingga kesiapan sumber daya manusia.
Dari dua pengalaman itu, di pusat dan wilayah, Iqbal memetik satu benang merah. Tantangan terbesar bukan sekadar mengelola isu atau menjalankan kebijakan, melainkan menjaga keseimbangan antara regulasi, implementasi, dan ekspektasi publik. Integritas dan keterbukaan menjadi fondasi yang tak bisa ditawar.
Bekal intelektualnya ditempa sejak bangku kuliah di Fakultas Farmasi UNAIR. Pendidikan farmasi melatihnya berpikir runtut, analitis, dan berbasis bukti. Pendekatan ilmiah tersebut, menurutnya, relevan dalam pengambilan keputusan di organisasi besar.
Tak hanya akademik, pengalaman non-akademik turut membentuk karakternya. Aktivitas kemahasiswaan mengasah kemampuannya berbicara di depan publik, bernegosiasi, memimpin tim, hingga mengelola perbedaan secara dewasa.
Kompetensi tersebut kini menjadi modal penting dalam memimpin fungsi komunikasi yang bersentuhan langsung dengan publik luas.
Kepada mahasiswa, ia berpesan agar tidak ragu memulai dari titik mana pun. Setiap fase memiliki maknanya sendiri, selama dijalani dengan komitmen dan kejujuran.
Perjalanan profesional, katanya, adalah proses akumulasi pengalaman yang pada waktunya akan mengantarkan pada peran yang lebih besar. (Nay).

