Notification

×

Iklan

Iklan

Viral Kakek 100 Tahun Hidup di Hutan Jember, Kapolres Turun Langsung Evakuasi

Rabu, 11 Februari 2026 | Februari 11, 2026 WIB Last Updated 2026-02-11T05:56:31Z
KILAS JAVA, JEMBER – Di bawah rindang pohon kawasan hutan Jatian Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, seorang lelaki renta menghabiskan hari-harinya dalam sunyi. Namanya Nalif Sagunia Ahab. Usianya diperkirakan hampir menyentuh satu abad. Tempat tinggalnya bukan rumah, melainkan hamparan tanah dan tumpukan sampah di lahan milik Perhutani.

Kisah hidupnya mencuat setelah warga merekam kondisinya dan membagikannya melalui media sosial. Dalam video yang beredar, Nalif tampak bertahan hidup dalam kondisi memprihatinkan, tanpa tempat tinggal layak, tanpa pendampingan, dan tanpa kepastian perlindungan sosial.

Respons datang cepat. Selasa, 10 Februari 2026, Kapolres Jember AKBP Bobby A. Condroputra turun langsung ke lokasi bersama komunitas Peduli Sosial yang dipimpin Pak Purnomo, anggota Polri dari Polres Lamongan yang dikenal aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Evakuasi dilakukan secara persuasif. Nalif kemudian dibawa keluar dari kawasan hutan menuju tempat yang lebih aman dan manusiawi. Untuk sementara, ia mendapatkan perlindungan dan perawatan di kediaman Pak Purnomo.

AKBP Bobby mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk konkret kehadiran negara melalui institusi kepolisian di tengah masyarakat.

“Kami berharap kakek Nalif bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak,” ujarnya.

Menurut Bobby, peran Polri tidak berhenti pada fungsi menjaga keamanan dan ketertiban. Dalam situasi tertentu, aparat kepolisian juga dituntut peka terhadap persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, terutama ketika menyangkut warga lanjut usia yang rentan dan terabaikan.

Kasus Nalif menjadi cermin persoalan sosial yang lebih luas: kemiskinan laten, keterbatasan akses layanan sosial, serta minimnya jaring pengaman bagi lansia terlantar. Tanpa sorotan publik, bukan tidak mungkin kondisi itu akan terus berlangsung tanpa intervensi.

Aksi evakuasi tersebut sekaligus menunjukkan sinergi antara aparat dan masyarakat. Viralnya informasi di ruang digital menjadi pemicu respons cepat di lapangan. 

Di satu sisi, media sosial berfungsi sebagai alarm sosial; di sisi lain, respons institusi menjadi penentu apakah alarm itu berujung pada solusi nyata.

Kini, Nalif tidak lagi tidur di bawah tumpukan sampah di tengah hutan. Perjalanan hidupnya mungkin belum sepenuhnya berubah, tetapi setidaknya ia telah keluar dari keterasingan yang nyaris tak terlihat.

Peristiwa ini menegaskan satu hal: di tengah kompleksitas persoalan sosial, kepedulian tetap menjadi pintu masuk paling mendasar bagi hadirnya keadilan sosial. (Red).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update