Notification

×

Iklan

UNAIR Dampingi Korban Bencana Aceh Cegah PTSD Pascahidrometeorologi

Minggu, 22 Februari 2026 | Februari 22, 2026 WIB Last Updated 2026-02-21T17:58:01Z
Kilas Java, Surabaya — Deras hujan kini tak lagi sekadar peristiwa cuaca bagi sebagian warga Aceh. Bagi mereka yang selamat dari banjir dan tanah longsor akhir 2025, bunyi hujan bisa menjadi pemicu kecemasan yang mendadak. Trauma masih membekas, bahkan setelah tiga bulan berlalu.

Salah satu penyintas, Ramiati, mengisahkan bagaimana rumahnya sempat terendam dan dipenuhi lumpur. Ia kehilangan tempat tinggal sekaligus mata pencaharian. 

Hingga kini, setiap hujan turun dalam durasi panjang, ia merasakan jantung berdebar dan sulit menenangkan diri. Keponakannya yang masih berusia lima tahun menunjukkan ketakutan serupa.

Fenomena itu, menurut tim pendamping, merupakan respons psikologis yang lazim terjadi setelah bencana. Untuk membantu proses pemulihan, Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan program pendampingan psikososial di wilayah terdampak. 

Pendekatan yang digunakan berfokus pada pemulihan emosi dan penguatan ketahanan individu.

Dosen Vokasi UNAIR, Edith Frederika Puruhito, mengatakan trauma pascabencana kerap tidak disadari oleh korban. “Trauma bisa dialami siapa saja, mulai dari anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga penyandang disabilitas dan mereka yang kehilangan anggota keluarga,” ujarnya, Sabtu, 21 Februari 2026.

Ia menjelaskan adanya gejala yang kerap disebut sebagai luka tak terlihat. Korban dapat mengalami hypervigilance atau kewaspadaan berlebihan, kilas balik peristiwa, perasaan hampa, kesulitan merasakan emosi positif, hingga kelelahan ekstrem. Kondisi tersebut dapat berlangsung lama bila tidak dikenali dan ditangani.

Menurut Edith, gejala psikis itu sering berlanjut menjadi gangguan fisik. Insomnia, gangguan pencernaan, sakit kepala, keringat berlebih, hingga jantung berdebar merupakan keluhan yang banyak ditemukan. Tubuh, kata dia, menyimpan memori atas peristiwa traumatik dan mengekspresikannya dalam bentuk keluhan somatik.

Pendampingan yang dilakukan UNAIR bertujuan mencegah trauma berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Proses pemulihan dimulai dari peningkatan kesadaran diri. Korban diajak mengenali dan memvalidasi perasaannya sendiri, kemudian fokus pada langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan setiap hari.

Edith menekankan pentingnya menerima realitas baru pascabencana. Alih-alih menunggu motivasi besar, ia mendorong warga untuk membangun kembali rutinitas sederhana dan menumbuhkan pola pikir yang memberdayakan diri.

Selain konseling psikososial, tim juga memperkenalkan teknik akupresur sebagai metode relaksasi. 

Teknik ini dilakukan dengan memberi tekanan pada titik tertentu di tubuh tanpa menggunakan jarum. Praktik tersebut bertujuan membantu meredakan ketegangan dan menstabilkan respons stres.

Pendampingan ini menjadi bagian dari komitmen UNAIR dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya pada aspek kesehatan, penguatan komunitas, pengurangan dampak kemiskinan akibat bencana, serta kolaborasi lintas pihak dalam pemulihan sosial masyarakat terdampak. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update