Notification

×

Iklan

Ramadan Ubah Jam Tidur, Akademisi UNAIR Ingatkan Bahayanya

Kamis, 26 Februari 2026 | Februari 26, 2026 WIB Last Updated 2026-02-26T15:51:05Z
Kilas Java, Surabaya – Ramadan identik dengan perubahan ritme harian. Waktu makan bergeser, aktivitas malam bertambah, dan jam tidur pun ikut terdorong makin larut. Situasi ini kerap dianggap wajar. Padahal, perubahan pola tidur selama puasa menyimpan konsekuensi kesehatan yang tidak ringan.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR), Lailatul Muniroh, menyoroti fenomena tersebut terutama di kalangan mahasiswa. Aktivitas sahur di dini hari, salat tarawih, tadarus, hingga kebiasaan berkumpul atau menyelesaikan tugas membuat waktu istirahat semakin tergerus. Apalagi jika kebiasaan begadang sudah berlangsung sebelum Ramadan.

“Selain perubahan aktivitas, saat puasa juga terjadi perubahan hormon kortisol dan melatonin yang memengaruhi kualitas tidur. Kalau begadang sampai sahur, durasi tidur makin pendek dan kualitasnya menurun,” ujarnya.

Akibatnya terasa cepat. Tubuh mudah mengantuk di siang hari, konsentrasi menurun, emosi lebih labil, hingga muncul keluhan pusing. Daya tahan tubuh pun bisa ikut melemah. Dalam jangka menengah, gangguan tidur berpotensi mengacaukan metabolisme. Hormon stres meningkat, nafsu makan saat berbuka sulit dikontrol, berat badan naik, dan regulasi gula darah terganggu.

Menurut Lailatul, gangguan ritme tidur tidak hanya disebabkan kurang tidur. Kelebihan tidur, terutama tidur siang terlalu lama, juga berdampak negatif. Seseorang bisa merasa pusing saat bangun dan kesulitan tidur kembali pada malam hari. Jika kurang aktivitas fisik, metabolisme melambat dan tubuh terasa lebih lemas.

Ia menyarankan masyarakat menata kembali jadwal istirahat sejak awal Ramadan. Tidur lebih awal menjadi langkah penting. Kebiasaan menggulir gawai sebelum tidur sebaiknya dihentikan karena cahaya layar menghambat produksi hormon tidur. Begadang tanpa keperluan mendesak perlu dihindari.

Tidur siang cukup 20–30 menit dinilai efektif memulihkan energi. Konsumsi kafein saat berbuka juga perlu dibatasi agar tidak mengganggu waktu istirahat malam. Aktivitas fisik ringan di pagi hari membantu menjaga kebugaran, sementara sahur dengan gizi seimbang mendukung stamina sepanjang hari.

Ramadan, kata dia, bukan sekadar perubahan jadwal makan, melainkan momentum melatih kedisiplinan hidup. Mengatur pola tidur menjadi bagian dari menjaga kesehatan agar aktivitas dan ibadah tetap optimal sepanjang bulan puasa. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update