Notification

×

Iklan

Nala Ares Mark II Menggila, ITS Borong Gelar di IRC 2026

Jumat, 27 Februari 2026 | Februari 27, 2026 WIB Last Updated 2026-02-27T09:26:46Z
Kilas Java, Florida - Di tengah dominasi kampus-kampus elite dunia, tim mahasiswa dari Surabaya justru tampil sebagai penguasa. Tim Barunastra dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember kembali menegaskan kelasnya dengan meraih Grand Champion dalam ajang International RoboBoat Competition di Sarasota, Florida, Amerika Serikat.

Selama enam hari kompetisi sejak 19 Februari lalu, Barunastra menghadapi 36 tim dari 10 negara. Persaingan berlangsung ketat. Apalagi, sejumlah universitas teknologi papan atas dunia turut ambil bagian, seperti Massachusetts Institute of Technology, Queen’s University, hingga Georgia Institute of Technology.

Namun, Barunastra tidak sekadar bersaing. Mereka mendominasi. Tim ini menyabet Juara 1 Autonomy Challenge, Juara 1 Design and Documentation, serta penghargaan Best Technical Design Report. 

Raihan tersebut menjadikan Barunastra satu-satunya tim yang menguasai kategori inti dalam kompetisi kapal otonom tingkat dunia itu.

International RoboBoat Competition dikenal sebagai ajang adu kecanggihan Autonomous Surface Vehicle (ASV) atau kapal tanpa awak. Tahun ini, tema yang diusung adalah Storm Response: Technology in Action for Recovery and Relief. 

Seluruh peserta ditantang merancang kapal yang mampu menjalankan misi respons bencana secara mandiri.

Barunastra mengandalkan prototipe Nala Ares Mark II. Kapal ini dirancang untuk mampu bermanuver di area simulasi pascabencana, menavigasi jalur evakuasi, menghindari puing, hingga mengirimkan logistik secara presisi tanpa kendali manusia langsung. Dalam sesi Autonomy Challenge, performa kapal tampil stabil dan akurat.

Tidak hanya unggul di lintasan air, tim juga memikat dewan juri lewat dokumentasi teknis yang dinilai matang dan komprehensif. Integrasi sensor, sistem navigasi cerdas, algoritma pengambilan keputusan adaptif, serta arsitektur perangkat lunak yang solid menjadi fondasi penilaian.

Dosen pembina Barunastra ITS, Rudy Dikairono, menyebut capaian tersebut sebagai bukti mahasiswa Indonesia mampu bersaing sejajar dengan kampus-kampus besar dunia. Menurutnya, kompetisi ini tidak hanya soal kecepatan atau ketepatan misi, melainkan konsistensi riset dan kedalaman rekayasa sistem.

Ia menegaskan bahwa proses pengembangan ASV menuntut disiplin tinggi. Setiap komponen harus melalui pengujian berulang. Koordinasi antardivisi juga menjadi kunci agar sistem bekerja terpadu.

Ketua Tim Barunastra ITS, Davin Abhinaya Briet, menilai ajang tersebut juga menjadi ruang kolaborasi global. Para peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga berdiskusi dan bertukar gagasan terkait pengembangan teknologi kapal otonom.

Perjalanan menuju Grand Champion, menurut Davin, tidak instan. Tim harus melewati fase desain, pemrograman, pengujian, hingga simulasi berulang sebelum berangkat ke Amerika Serikat. Dukungan alumni dan berbagai pihak internal kampus turut memperkuat kesiapan teknis dan mental tim.

Pengembangan kapal otonom yang dilakukan Barunastra tidak berhenti pada arena lomba. Riset tersebut membuka peluang penerapan teknologi maritim untuk pemantauan perairan, mitigasi bencana, serta distribusi logistik di wilayah kepulauan. 

Di tengah kebutuhan akan inovasi berbasis teknologi, capaian ini memperlihatkan bagaimana riset mahasiswa dapat menjawab tantangan nyata di sektor maritim. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update